Ulama yang memiliki karya dalam Bahasa Arab merupakan ulama yang dinilai tsiqoh (terpercaya) dalam keilmuannya, karena Al-Qur’an diturunkan dalam Bahasa Arab, begitupula hadits-hadits Nabi dan kitab-kitab utama yurisprudensi dan teologi Islam ditulis dalam Bahasa Arab. Tentunya ulama yang mempunyai karya dalam Bahasa Arab kedalaman pemahamannya akan teks-teks dapat dipertanggungjawabkan dan dapat ditakar ketelitiannya dan kepakarannya dalam Bahasa Arab bahkan walau ia telah lama wafat.
Syekh Ahmad Syathibi atau yang lebih dikenal dengan sebutan Mama Gentur, beliau adalah ulama dari tanah Pasundan. Di kalangan masyarakat Jawa Barat kata Mama biasanya disematkan kepada Ajengan atau Kiai yang ilmunya tinggi, sehingga sebutannya menjadi Mama Ajengan atau Mama Kiai. Sementara Gentur adalah sebuah Desa yang berada di Kecamatan Warungkondang, Cianjur, Jawa Barat.
Adapun karya-karya beliau adalah: Kitab al fikratunnahdliyyah fi ushuli wa furu'i ahlissunnah waljama'ah, kitab an nailul kamil syarah matan awamil, kitab nihayatul maqshud syarah matan nadzam maqshud, kitab asyarhul maimun syarah kitab matan al jauharul maknun, kitab al jalaliyah fi qowaid al fiqhiyyah, kitab al ibanah syarah matan rahbiyah, kitab talkhisul husul fi ilmil ushul syarah kitab matan nadzam waraqat, kitab al ta'aruf fi ilmit tasawwuf, kitab al burhan ila tajwidil qur'an, kitab al anwar albantaniyah fi ikhtilafi ulamai kufah wal bashrah, kitab al manahijus shofiyyah fi syarhil alfiyah dan lain-lain
Pada masing-masing imam madzhab itu secara ijtihadi mampu merumuskan ajaran Islam secara detil dan mudah dimengerti, karena dalam madzhab cara memahami Islam tidak keliru
Di kediaman Kiai Majazi ini, tersimpan sejumlah memorabelia peninggalan Syekh Nawawi. Di antaranya ada yang berupa jubah, pedang dan cincin. Benda-benda tersebut diwariskan oleh Syekh Nawawi melalui cucu menantunya, Syekh Najihun. Kemudian, saat terjadi konflik di Hijaz antara Syarif Husein dan Ibn Saud, Syekh Najihun dan keluarganya pulang ke Nusantara dan tinggal di rumah yang kini di tempati Kiai Majazi.
Menurut Sayyid Abu Bakar Syattha’ dalam I'anah al-Thalibin bahwa ‘Rajab’ sendiri diambil dari kata at-tarjib yang berarti memuliakan, karena masyarakat Arab dulu lebih memuliakannya dibanding bulan lainnya. Rajab disebut juga al-ashabb yang berarti mengucur, karena kebaikan pada bulan ini mengucur deras. Juga dinamakan rajam yang berarti melempari, karena pada bulan ini para musuh dan setan dilempari sehingga tidak bisa lagi mengganggu para wali Allah dan orang-orang shalih.
Menurut guru saya al-Alim al-Hafidh Abuya Murtadho Dimyati, jika menemukan "gegodan" yakni hantu, atau makhluk halus maka tidak perlu disikapi dengan takut, gemetar, atau lari tapi harus ditantang. Beliau ini pernah suatu waktu mengijazahkan ayat al-Kursy dengan sanad Syaikh Ahmad Ali al-Buny ke saya dan para santri lainnya.
Salah satu perkembangan signifikan dalam sejarah NU dapat terlihat dalam formasi kepengurusan baru NU yang baru di bawah kepemimpinan Rais Aam KH Miftachul Akhyar dan KH Yahya Cholil Staquf, terlihat sedang mengaspirasi banyak elemen dan tokoh strategis, sekaligus memperdalam basis NU di kalangan pesantren tua dan memasukkan unsur tokoh tokoh perempuan, tokoh pondok pesantren utama dan unsur pemangku kewilayahan di Nusantara.
Gus Dur berada di garda terdepan membela kaum minoritas yang tertindas. dari pembelaannya terhadap demokrasi tak heran ketika beliau terpilih sebagai presiden RI ke-4 beliau mencabut kepres-kepres yang bertentangan dengan nilai-nilai keadilan dan berbau diskriminatif. Dari kepres tersebut, Gus Dur mencabut kepres larangan perayaan imlek dan segala atribut yang menyertai simbol Tionghoa.
Anak sekecil itu hanya menaruh kagum saja, tidak diteruskan untuk mencari pengetahuan tentang riwayat kedua tokoh tersebut atau terhadap NU, intinya kenal NU itu hanya pada lambang NU. Seolah lambang saja sudah membuat takjub saya yang melihatnya.