Problem Linguistik Gelar Habib dan Tawaran Solusinya

Posted by: Admin 13-Agu-2026 Tidak ada komentar

Oleh: Rifky Zulkarnaen J. Baswara

Tanggal 13 Juli 2024 penulis telah menguraikan permasalahan penggunaan diksi ‘habib’ yang saat itu banyak disalahpahami dan disalahterapkan. Namun demikian, sebagai landasan tulisan ini penulis ulangi kembali dengan ringkas. Gelar Habib adalah gelar untuk keturunan Ubaid (Alwi bin Ubaidillah), keluarga Baalwi Imigran Yaman.

Habib bukanlah kata ganti atas frase ‘keturunan Nabi Muhammad Saw’. Kata ganti atas frase ‘keturunan Nabi Muhammad Saw’ adalah Sayyid-Syarif. Gelar Habib tidak ada hubungan sama sekali dengan gelar Sayyid-Syarif. Seluruh habib baik habib asli atau habib palsu, sudah pasti bukan Sayyid-Syarif atau sudah pasti bukan keturunan Nabi Muhammad Saw. Habib bukan Sayyid-Syarif. Habib adalah Sayyid-Syarif palsu. Atau, seluruh habib baik habib asli atau habib palsu, sama-sama Sayyid-Syarif palsu.

Ketika Anda menyematkan gelar habib kepada KH. Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asyari artinya Anda menyatakan bahwa kedua pahlawan nasional tersebut merupakan keturunan Baalwi Imigran Yaman bukan sedang menyatakan keduanya dzuriyah Rasul. Konsekuensi dari kesalahan lingustik yang nampak kecil itu fatal dampaknya pada sejarah bangsa Nusantara dan jati diri bangsa. Apa dan bagaimana fatalnya? Pembaca bisa mempelajari di link berikut ini https://rminubanten.or.id/dekonstruksi-gelar-habib-menghentikan-penjajahan-khususnya-untuk-warga-nu-dan-muhammadiyah/.

Baalwi dan Baalawi itu berbeda. Baalwi adalah keluarga Alwi yaitu merujuk pada Klan Habib Baalwi. Baalawi adalah seluruh keturunan Alawi yang merujuk pada Sayidina Ali krw. Alawiyah dan Alawiyin itu berbeda. Alawiyah adalah Baalwi (keturunan Alwi bin Ubaidillah, habib-habib imigran Yaman itu), Alawiyin adalah Baalawi (keturunan Syd Ali krw).

Urusan linguistik ini memang merepotkan masyarakat. Pola aksi distorsi dan interpolasi Klan Habib Baalwi memang begitu yaitu memirip-miripkan nama atau istilah miliknya dengan yang asli yang ingin dicangkok sehingga orang yang mendengar berpersepsi salah mengira Klan Habib Baalwi itulah yang asli atau bagian dari yang asli.

Kita ke studi kasus yang lain.

Tarekat Alawiyah adalah nama tarekat Klan Habib Baalwi yang merujuk pada Faqih Muqaddam, leluhurnya. Nama tarekat Alawiyah itu sama persis dengan tarekat Alawiyah yang merujuk atau bersumber pada Syd Ali krw. Namanya persis sama tetapi isinya beda. Pelajari lebih detail di link ini https://rminubanten.or.id/politik-bahasa-klan-habib-baalwi-politikus-bahasa-yang-licik-dan-terlaknat-1/ (09 Oktober 2024).

Banom NU dalam ketarekatan adalah JATMAN. Klan Habib Baalwi dan budak-budaknya, yang dipimpin Habib Luthfi bin Yahya, setelah didepak oleh PBNU karena hendak merampok Jatman dengan nama Patman, lantas ia membuat organisasi tarekat tandingan dengan nama yang mirip dengan JATMAN yaitu Jatma Aswaja. Masyarakat yang tidak paham betul pikirannya dapat termanipulasi bahwa Jatma Aswaja adalah Jatman. Warna dan logo Jatma Aswaja mirip sekali dengan logo dan warna NU dan Jatman.

Organisasi PWI-LS berdiri. Klan Habib Baalwi dan budak-budaknya bikin organisasi Ahibba untuk menandingi PWI-LS. Logo Ahibba mirip sekali dengan PWI-LS.

Klan Habib Baalwi dan budak-budaknya bikin NUGL untuk memecah, menandingi, memframing, mendiskreditkan dan mengeliminir NU yang resmi. Dengan nama NUGL yang mirip dengan NU mereka memframing atau menanamkan persepsi ke masyarakat bahwa NU yang resmi adalah tidak lurus (bengkok, tidak layak diikuti) sedang yang lurus (semestinya diikuti) adalah NUGL yang dipimpin Idrus Ramli, Yahya Zanul Maarif (Yahya Al Bahjah), dan Luthfi Bashori.

NUGL dan Ahibba didirikan oleh kelompok orang yang sama yaitu Idrus Ramli, Yahya Al Bahjah dan Luthfi Bashori dan gerombolannya. Pada ujungnya mereka berasosiasi dengan Klan Habib Baalwi. Model aksinya sama.

Sekarang dan beberapa tahun belakangan ada isu baru. Sebagian masyarakat mengatakan jangan panggil habib baalwi dengan gelar habib karena gelar habib hanya khusus bagi Rasulullah Saw. Umpamanya Habib Rizieq Shihab jangan dipanggil dengan gelar habib ganti saja dengan Pak, Bang, dll karena gelar habib hanya khusus bagi Rasulullah Saw.

Perhatikan urutan dialog pada gambar di bawah ini sebagai contoh kasus.[1]

Penulis, dan kita semua, tahu tentang problem gelar habib itu. Pembaca silakan meninjau https://rminubanten.or.id/the-beginning-of-baalwisasi-yamanisasi-penyelewengan-definisi-habib-dan-ahlul-bait/. Silakan pula meninjau dokumen yang menjelaskan bahwa habib adalah gelar khusus bagi Rasulullah Saw dan secara lancang digunakan oleh Klan Habib Baalwi https://drive.google.com/file/d/1tE-1qIgjV8cA03roNoVOUXm9XQOQTNYq/view .

Meski penulis tahu, penulis tetap memanggil Klan Baalwi dengan panggilan habib sebab yang berlaku di masyarakat hasil dari doktrin Klan Baalwi adalah gelar habib eksklusif hanya untuk Klan Baalwi sehingga masyarakat pun menggunakan gelar habib untuk merujuk pada Klan Baalwi. Konstruksi sosial dan makna yang berlaku di masyarakat begitu. Atas landasan itulah penulis tetap memanggil mereka dengan sebutan habib supaya identifikasinya tepat dalam proses komunikasi.

Ada juga permasalahan linguistik tentang habib asli dan habib palsu. Mengatakan habib asli atau habib palsu, itu harus menentukan terlebih dahulu berangkatnya dari definisi yang mana. Ada tiga landasan. Pertama, habib adalah gelar khusus bagi Rasulullah Saw. Kedua, habib adalah gelar khusus bagi Klan Baalwi. Ketiga, habib adalah orang yang mencintai dan dicintai. Nah, mau berangkat dari mana? Titik pemberangkatan ini akan menentukan keputusan asli dan palsunya gelar habib pada seseorang dan akurasi penggunaannya pada percakapan. Butuh diperhatikan, landasan pertama tidaklah populer di pemahaman masyarakat dan tidak berlaku di masyarakat. Landasan kedua, itulah yang berlaku di masyarakat saat ini. Landasan ketiga, memang ada tapi tidak berlaku di ranah praksis. Oleh karenanya, landasan menentukan dan menggunakan frase habib asli atau habib palsu adalah landasan yang kedua karena itulah yang menjadi konsensus bahasa pada waktu sementara ini.

Ingatlah bahwa urusan bahasa adalah urusan konsensus. Jika ingin diubah, ubahlah konsensusnya. Sepanjang tidak ada konsensus baru yang mengkoreksi konsensus yang sedang berjalan (existing) dan berlaku secara praktikal maka yang berlaku adalah konsensus yang eksis. Yang bisa mengubah konsensus tentang gelar habib adalah (PB) NU atau pihak lain yang dianggap berotoritas oleh masyarakat. Jika NU tak bernyali, MUI tak bertaji, Muhammadiyah dan ormas lain tak peduli karena Klan Baalwi dianggap urusan khusus NU sebab yang memeliharanya hanya NU, mungkin bisa Majma Fuqoha Jawa mengambil alih peran itu, atau lembaga lainnya. Yang penting ada konsensus formal-legal yang membuat masyarakat berangkat dari landasan pemahaman yang sama yang kemudian penerapannya diikuti oleh masyarakat.

Jadi ketika penulis berteguh memanggil Baalwi Imigran Yaman dengan habib itu bukan berangkat dari landasan pertama yaitu gelar khusus bagi Nabi Saw atau gelar bagi dzuriyah Nabi tetapi berangkat dari landasan kedua yaitu gelar khusus bagi Baalwi yang mereka sendiri yang mendoktrinkannya ke masyarakat dan masyarakat pun memberlakukan itu. Kalau ingin mengembalikan kekultusan gelar habib hanya khusus bagi Rasulullah Saw, adakan konsensusnya terlebih dahulu untuk mengubah konsensus lama.

Saya kira, Anda yang mengaku ulama atau memposisikan diri sebagai ulama, berkewajiban mengembalikan kesucian marwah Rasulullah Saw termasuk gelar habibullah yang secara ontologi diberikan Allah Swt hanya khusus kepada Kanjeng Nabi Saw. Gelar khusus itu kini dirampas oleh Baalwi, lebih buruknya digunakan untuk berbuat kedzaliman luar biasa. Lalu bagaimana sikap dan tanggung jawab moral Anda sebagai yang mengaku ulama tentang hal itu? Itu pertanyaan. Dijawab boleh, tidak dijawab boleh. Dianggap penting boleh, diabaikan juga boleh tetapi Anda tetap sedikit banyak bertanggung jawab di hadapan Allah Swt karena Anda mengaku atau berposisi sebagai ulama.

Mengganti gelar habib bagi Baalwi dengan sebutan Pak, Bang, Mas, dan sejenisnya kepada mereka itu juga bermasalah—bukan solusi. Dengan mengganti menjadi Pak (dan sejenisnya), Anda sedang merendahkan panggilan Pak karena memposisikan gelar habib sebagai panggilan kehormatan lantas untuk tidak menghormatinya Anda panggil dia dengan sebutan Pak. Jadi, sebutan Pak, Mas, Bang, Anda posisikan derajatnya di bawah gelar habib. Secara praksis, untuk tidak menghormati Baalwi Anda gunakan sebutan Pak kepada mereka. Jadi Pak (dan sejenisnya) adalah sebutan untuk tidak menghormati orang. Coba bayangkan betapa tersinggungnya Pak Jokowi, Pak Prabowo, dan saya dan lainnya yang hanya dipanggil Pak, Mas atau kangmas—andai mengetahui sebutan itu untuk tidak menghormati orang; karena artinya Anda sedang tidak menghormati Jokowi, Prabowo, saya dan orang lainnya. Tentu hati Anda tidak memaksudkan begitu tetapi pada realitanya begitulah yang terjadi pada sistem bahasa dan sosial masyarakat NU di mana ada komparasi derajat pada sebutan-sebutan dan salah satunya dibandingkan dengan sebutan habib. Ini memang tidak mudah, ribet, tetapi itulah fakta sosial yang terjadi di NU.

Pada prakteknya, yang lain, untuk menghormati orang, Anda panggil dia Gus. Saat berhenti menghormatinya, Anda panggil dia Mas. Jadi panggilan Mas adalah panggilan untuk tidak menghormati orang. Metabolisme psikologi orang NU faktanya begitu. Nasib naas serupa menimpa pada sebutan Bang, kangmas, dll.

Mohon tidak salah paham menduga saya menuntut  (demanding) dipanggil Gus. Sejak bertahun-tahun lalu saya sudah dipanggil Gus oleh sebagian orang yang mengenal saya tapi selalu saya jelaskan bahwa saya bukan Gus. Karena saya paham bahwa definisi Gus yang berlaku di pikiran masyarakat adalah anak kiai. Sementara Abah saya tidak dikenal dengan panggilan kiai, beliau dipanggilnya ‘Abah’, ‘Haji’, atau ‘Kak Toan’. Kakek saya baik dari jalur Abah dan Umi dipanggil Mbah oleh masyarakat tidak dipanggil Kiai. Bahwa mungkin secara kualitatif iya, tetapi itu perseptif bukan fakta kuantitatif sebagaimana kultur NU yang berlaku hari ini. Bahwa saya diambil mantu oleh sosok yang kalau di NU digelari kiai, itu persoalan lain lagi. Jadi ditinjau dari segi mana pun tetap saya bukan Gus. Bukan karena saya orang baik saya rajin mengklarifikasi panggilan Gus pada diri saya tetapi saya ndak mau saja kerepotan di masa depan saya dituduh-tuduh sebagai Gus palsu karena mengaku-ngaku Gus padahal saya tidak pernah mengaku-ngaku hatta sebagai apapun juga. Lagi pula, diukur dari manfaatnya, apa untungnya sebutan itu bagi saya, menghadirkan keuntungan apa, kecuali kalau orang iktikadnya mau jualan supaya laku lalu jadi uang atau untuk memperoleh penghormatan atas persepsi kedudukan sosial tertentu sebagai alat produksi ekonomi yang ujungnya juga uang, baru ada untungnya. Kalau sekedar keuntungan berupa penghormatan sosial akibat konotasi gelar Gus padahal bukan, itu kan takhayul, khayali saja, cuma senang-senang emosi saja tetapi keuntungan konkrit dunia-akhiratnya tidak ada. Bahwa ada orang yang tetap berteguh memanggil saya Gus, saya menghargai iktikad baik itu, yang penting sudah saya menjelaskan bahwa saya bukan anak Kiai sehingga tanggung jawabnya berpindah kepadanya yang memanggil saya Gus.

Pada akhirnya, saya menyarankan panggillah Klan Baalwi tetap dengan panggilan habib supaya jelas di benak masyarakat bahwa mereka adalah Klan Baalwi imigran Yaman antek penjajah Belanda,[2] cucu palsu Rasulullah Saw, pelaku operasi Klandestin Baalwisasi-Yamanisasi,[3] perampok gelar nabi Saw yang karenanya sebutan habib bagi mereka bukan sebutan kehormatan melainkan laknat yang diridhoi Allah Swt karena sudah lancang mengambil gelar khusus Rasulullah Saw, gelar habib di tengah masyarakat sekarang sudah mengalami inflasi habis-habisan super negatif, biarkan konotasi itu melekat pada yang mengklaimnya yaitu Klan Baalwi, konotasi negatif itu jangan dihilangkan dengan menggantinya dengan sebutan lain yang tidak berkonotasi negatif—sampai ada konsensus berikutnya. Atau bisa juga sebagaimana yang sudah berjalan di sebagian masyarakat yaitu memanggil Baalwi dengan panggilan kabib, plesetan dari habib. Kalau untuk tidak menghormati mereka sebagai sebuah sanksi sosial, sebut saja namanya langsung tanpa embel-embel Pak, Mas, Bang, dll sejenis supaya tidak merendahkan marwah atau menyebabkan konotasi negatif pada sebutan-sebutan itu.

[1] Diambil dari video YouTube penulis MELACAK JEJAK BRANDING WALI HABIB LUTHFI BIN YAHYA https://youtu.be/5OVq-kjotgI?si=d_-VuF-NAjrtOxJU (publish 12 Agustus 2026)
[2] https://rminubanten.or.id/klan-habib-baalwi-dulu-antek-penjajah-belanda-kini-penjajah-bangsa-nusantara/ 
[3] https://rminubanten.or.id/operasi-klandestin-klan-habib-baalwi-copy-paste-operasi-zionis-israel-ke-palestina/