Laporan C. Snouck Hurgronje yang paling populer terkait konteks sejarah politik dan sosial di Hindia Belanda (Indonesia) terangkum dalam buku karya monumental-nya berjudul “Ambtelijke Adviezen van C. Snouck Hurgronje” (Nasihat-nasihat Jabatan C. Snouck Hurgronje). Dalam menyusun analisis ini, Snouck bekerja sama dengan tokoh Baalwi, Syekh Usman bin Yahya, untuk memastikan kebijakan kolonial tidak memicu pemberontakan berbasis agama.
Buku berisi laporan-laporan C. Snouck Hurgronje itu telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan tersedia untuk public dengan judul “Nasihat-Nasihat C. Snouck Hurgronje Semasa Kepegawaiannya kepada Pemerintah Hindia Belanda (1889-1936)”. Proyek penerjemahan besar ini dilakukan melalui kerja sama studi Islam Indonesia-Belanda (INIS) mulai tahun 1989. Koleksi ini terdiri dari 11 jilid yang mencakup berbagai topik mulai dari Islam, hukum adat, hingga masalah politik kolonial.
Dalam tulisan ini, saya akan memilih focus pembicaraan tentang sosok pembantu C. Snouck Gronje yaitu Syekh Usman bin Yahya Baalwi yang banyak terdapat dalam buku itu, baik yang terdapat dalam Kata Pengantar oleh P.Sj. Van Koningsveld, Laporan Snouck langsung maupun reportase Surat Kabar yang dikutip Snouk. Kata “Sayid” yang disematkan dalam tulisan ini adalah kutipan dalam buku relasinya dengan integritas kutipan, bukan dalam arti pengakuan akan validitas sebuah genealogi.
Dalam Kata Pengantar, Koningsveld mengungkapkan bahwa Syekh Usman bin Yahya diangkat oleh Pemerintah Belanda secara resmi sebagai rekan kerja Snouk dengan gaji bulanan sebesar 100 Gulden.
Koningsveld berkata:
“Peninggalan tulisan para rekan Snouck lainnya yang berbangsa Indonesia, terutama peninggalan rekannya yang terdekat yang pada usia lanjut meninggal, pada tanggal 18 Januari 1914, yaitu Sayyid Uthman, seorang ahli hukum yang berasal dari Hadramaut. Tokoh ini, atas usul Snouck tertanggal 20 Juni 1889, telah diangkat menjadi rekan tetapnya dengan gaji bulanan sebanyak seratus gulden. Dua tahun kemudian telah diberikan kepadanya sebutan “penasihat honorer”. Tulisan-tulisan yang banyak jumlahnya (di antaranya sejumlah fatwa) dan karyanya sangat dihargai oleh Snouck dan Pemerintah Belanda. Dari beberapa tulisan tersebut yang dianggap sebagai dukungan terhadap kekuasaan Belanda, dibayarlah biaya pencetakan oleh Pemerintah Hindia Belanda. Selain itu sejumlah terbitan itu juga digalakkan penyebarannya di antara penduduk, meskipun dengan jalan tidak langsung. Sebabnya karena penyebaran yang langsung dari pihak Pemerintah tidak pantas dianjurkan, karena dengan cara demikian kepercayaan penduduk terhadap isi tulisan itu mudah dirugikan. (C. Snouk Hurgronje, Nasihat-Nasihat C. Snouck Hurgronje Semasa Kepegawaiannya kepada Pemerintah Hindia Belanda (1889-1936), INIS, 1989 jilid I h. L.VII)
Koningsveld juga mengungkapkan bahwa Usman bin Yahya sangat berperan dalam menekan Umat Islam agar tidak melakukan “Perang Sabil”. Menurut Usman, orang yang punya maksud-maksud nafsu kehormatan dan uang lah yang menganjurkan Perang Sabil tersebut.
Koningsveld berkata:
“Perhatian istimewa diberikan dalam karangan ini kepada perjuangan Sayyid Uthman melawan penyebaran ajaran tentang perang sabil atau “perang suci” melawan kaum kafir. Yang lebih buruk lagi daripada permainan kata yang berwenang serta praktik-praktik mistik ialah, menurut sayyid itu, bila ada orang yang memberanikan diri, demi tercapainya maksud-maksudnya yang bernafsu kehormatan dan bernafsu uang, untuk mengkhotbahkan perang sabil demi agama. Agar benar-benar sah, perang seperti itu menghendaki dipenuhinya banyak syarat yang tidak ada di sini. Sebagian syarat-syarat itu terjadi dari sifat-sifat kaum muslimin yang menjalankan perang itu, sebagian terjadi dari perbuatan kaum “kafir” yang menjadi sasaran perang tersebut. Tetapi baik di pihak sini maupun di pihak sana, kata sayyid kita, di negeri ini tidak terdapat syarat-syarat tersebut. Maka, mereka yang dengan mengabaikan itu mengkhotbahkan perang sabil juga, adalah orang celaka yang membawa bencana atas dirinya sendiri maupun orang-orang seagamanya yang tidak bersalah.” (Nasihat, Jilid I h. LXI-LXII)
Menurut Koningsveld, Usman mencela perjuangan rakyat Bekasi dan Cilegon Banten yang berjuang mengusir Penjajah Belanda dan menyebut para pemimpin pergerakan itu sebagai “orang-orang yang berniyat jahat”.
Koningsveld berkata:
“Sayyid Uthman dengan panjang lebar membicarakan pokok ini dan antara lain mencela huru-hara yang terkenal di Bekasi dan Cilegon sebagai gerakan pemimpin-pemimpin yang berniat jahat serta massa rakyat yang tertipu, kemudian ia memuji orang-orang sebangsanya yang berkelakuan baik, karena seorang pun di antara mereka tidak pernah menyebut-nyebut perang sabil. Terutama pembahasan masalah yang tersebut terakhir ini, dengan cara yang dipakai oleh Sayyid Uthman, pantas mendapat penghargaan yang sebesar-besarnya. Seperti setiap orang yang cukup penting lainnya pun ada yang iri kepada pengarang ini. Orang-orang tersebut dengan sendirinya mungkin memutarbalikkan soal itu dan dengan merugikan citra sayyid tersebut pada para pembesar Mohammadan (misalnya di Mekah, tempat sayyid itu mempunyai hubungan-hubungan yang (berpengaruh) menggambarkan soal tersebut sedemikian rupa, seolah-olah ia hendak menggagalkan peraturan syariat mengenai jihad sebagaimana adanya. Namun, ia percaya kepada pemahaman para pembesar tersebut dan kewibawaan besar yang dinikmati olehnya di segala pelosok Kepulauan Nusantara (juga di Banten) telah dipertaruhkannya demi ketertiban dan ketenteraman. Siapa yang selanjutnya di Hindia Belanda hendak mengkhotbahkan perang sabil melawan Pemerintah dan melawan bangsa Eropa, wakil dari bidang Mohammadan berhadapan dengan wakil yang paling berwibawa di bidang ilmu-ilmu suci di negeri ini! (Nasihat, Jilid I h. LXII)
Dalam fatwanya mencela perjuangan mengusir penjajah, menurut Koningsveld, Usman selalu berdalil dengan ayat-ayat Al-Quran dan Hadits. Koningsveld berkata:
“Ulasan Sayyid Uthman selalu penuh dengan kutipan al-Quran dan hadis suci mengenai persoalan yang bersangkutan. Agar lebih lagi menegaskan perlawanannya terhadap apa yang oleh sebagian orang pribumi secara salah disebut perang sabil, ia menegaskan bahwa pada tahun 1858 ketika penduduk Jedah membunuh orang-orang Kristen yang bermukim di sana, itu bukan saja disusul oleh pemboman kota tersebut oleh kapal-kapal perang Inggris dan Perancis, melainkan juga oleh Sultan Turki dijatuhkan hukuman mati kepada penghasut-penghasut utamanya. Semoga buku kecil yang bermanfaat itu memperoleh banyak pembaca di antara orang pribumi dan semoga pengarangnya akan mendapat penghargaan yang pantas di kalangan orang-orang Eropa!” (Nasihat, Jilid I h. LXII)
Usman bin Yahya, masih dalam tulisan Koningsveld, membuat kitab yang sangat menguntungkan Belanda dan orang-orang non muslim, di mana dalam kitab itu Usman menyatakan bahwa walau pemerintah adalah kafir dan penjajah tetap umat Islam tidak boleh mengganggu kedamaian yang telah ada.
Koningsveld berkata:
“Sumbangan yang berikut dalam rangkaian karangan ini terbit pada tanggal 26 Maret 1891 dan berkaitan dengan tulisan Sayyid Uthman yang terbaru Taffih al-uyun ala fasad az-zunün (“Pembuka mata mengenai kebusukan beberapa pendapat”). Karangan tersebut memberikan perhatian khusus terhadap kritik Sayyid Uthman, “kepada orang-orang yang karena disesatkan oleh beberapa naskah yang mereka pahami dalam bab-bab syariat tentang jihad, menyangka bahwa seseorang sudah dapat bertanggung jawab di hadapan Allah jika orang tersebut sebagai Mohammadan mengambil harta orang-orang kafir, Cina, atau pun Belanda untuk dirinya sendiri. Dengan teks-teks yang berwibawa Sayyid Uthman telah mengulas bahwa sebenarnya haram juga hukumnya jika orang memandang rendah terhadap harta darah seorang bukan Mohammadan yang hidup dengan damai bersamanya, seperti juga perbuatan yang merugikan orang seiman. Selanjutnya ia mengulas bahwa keadaan damai yang diduga itu terdapat di mana-mana di negeri ini. Maka, para penganut kesesatan yang tersebut tadi, di dunia dan di akhirat akan membawa bencana bagi dirinya sendiri. Sekaligus karena kegilaannya mereka merusak nama baik orang-orang seiman mereka yang jujur. Itulah yang pertama di antara sembilan kesesatan yang dikecamnya.” (Nasihat, jilid I h. LXIII)
Sementara Snouck, dalam laporannya, mengungkap bahwa gaji yang diberikan Pemerintah Belanda terhadap Usman bin Yahya adalah atas usulannya agar Usman menulis kitab sebanyak mungkin demi kepentingan Penjajah Belanda. Snouck mengatakan:
“Agaknya tidak perlu diulas, bahwa pertolongan dan bantuan orang seperti itu dapat menyumbangkan banyak sekali bagi suburnya penelitian saya. Karena Sayid Usman tidak mempunyai harta milik dan mencari nafkah dengan bekerja sendiri, maka lambat laun mutlak diperlukan imbalan keuangan untuk menjamin bantuan tersebut. Jika imbalan ini diberikan, maka ia akan sekaligus didorong untuk mengatur agar kegiatan pendidikan dan sastra-nya sebanyak mungkin mandiri sesuai kepentingan Pemerintah Pusat. Hal ini sebenarnya sudah cukup lama dilakukan, misalnya terhadap perkumpulan-perkumpulan mistik.”(Nasihat, 9/1623)
Kita akan mengetahui, bahwa seorang Snouck adalah politisi yang cerdik dan lihai. Walau Usman mendapatkan gajih resmi dari Penjajah Belanda, tetapi pemberian gajihnya tidak diberikan sebagaimana pegawai lainnya. Itu dilakukan agar kedudukan Usman sebagai tokoh di hadapan jamaahnya tidak jatuh ketika ia diketahui sebagai budak Penjajah Belanda. Snouck berkata:
“Sementara itu, terutama pada keadaan sekarang, kewibawaan yang telah diberikan oleh orang-orang seiman kepada sayid itu, akan terpengaruh kurang baik, jika ia secara terbuka dikenal sebagai abdi pemerintah. Maka sebaiknya tunjangan yang mungkin akan diterimanya diberikan dengan perantaraan saya, sebagai imbalan atas bantuannya yang akan diberikan kepada saya untuk penelitian ilmiah saya.” (Nasihat, 9/1623)
Usman bin yahya, menurut Snouck, sangat giat mengkampanyekan kepada Umat Islam untuk tidak memberontak terhadap Penjajah Belanda. Snouk berkata:
“Dan secara lisan dan tulisan di mana-mana ia selalu mengkhotbahkan kepada pribumi dan orang asing Mohammadan yang bermukim di sini tentang ketaatan kepada pemerintah. Sedangkan kalau ia melihat agama Mohammadan disalahgunakan untuk mencari keuntungan atau untuk memupuk semangat ketidakpuasan atau memberontak, maka dengan giat ia selalu bertindak untuk melawannya.” (9/1624)
Dalam pandangan Snouck, semua karangan Usman bin Yahya bertujuan untuk mencegah Umat Islam memberontak terhadap Penjajah Belanda. Snouck berkata:
“Pada intinya, semua karangan Sayid Usman yang banyak jumlahnya, bertujuan untuk menunjukkan jalan bagi orang Mohammadan yang beriman, meskipun yang di bawah pemerintahan yang bukan Mohammadan agar memenuhi kewajiban ibadah mereka sesetia mungkin, tanpa melawan ke-kuasaan yang ada baik dengan kata maupun tindakan.” (Nasihat, 9/1628)
Dalam laporannya kepada Gubernur Jenderal Belanda, Snouck mengungkap adanya usaha orang-orang terpelajar yang mengirim berita ke konstantinopel dan Mesir akan keadaan di Nusantara, dalam berita itu pula disebut adanya kecaman-kecaman terhadap sosok Usman bin yahya. Snouk berkata:
“Wartawan yang berniat buruk dari sini telah membaca, bahwa Sayid Usman menganggap dirinya sebagai pintu yang sebenarnya dan hendak menunjukkan kunci yang sebenarnya. ‘Wartawan tersebut menegaskan bahwa tidak seorang pun akan menganggapnya sebagai orang seperti itu, karena ia berpihak pada Pemerintah Belanda dan selalu berusaha untuk merugikan orang sebangsanya.” (Nasihat, 9/1630)
Snouck Gronje berusaha mengangkat nama baik usman bin Yahya yang dihujat di Tanah Air sebagai pendukung Penjajah kafir, dengan memohon kepada Gubernur Jenderal Belanda agar mengadakan permintaan diplomatic kepada pemerintah Turki agar memberikan penghargaan kepada usman bin yahya. Ini dilakukan agar misi Belanda untuk menjadikan Usman bin Yahya orang yang dihormati di tanah air akan tetap terjaga agar misi penjajah bisa lancar. Snouck berkata:
“Kehadapan Yang Mulia Gubernur Jenderal, Sambil menyerahkan kembali surat kementerian yang disampaikan kepada saya dengan surat kiriman Sekretaris Umum tertanggal 29 September 1900, La H, sangat rahasia, dengan hormat, saya melengkapi surat saya yang sangat rahasia tertanggal 7 Oktober 1900 no. 64, dengan catatan bahwa surat kiriman yang diterima Prof. De Goeje dari Duta Turki di s’Gravenhage, tentu saja hanya sedikit atau sama sekali tidak akan berpengaruh atas usaha meng-hentikan agitasi yang ditujukan kepada Sayid Usman sebagai sekutu Pemerintah Belanda yang anti-Mohammadan. Tetapi ucapan resmi Syekh al-Islam akan merupakan titik pertemuan yang diinginkan bagi keinginan yang akan diucapkan oleh Duta Sri Baginda di Konstantinopel pada Pemerintah Turki. Keinginan ini mengenai tanda penghargaan yang hendaknya di-anugerahkan kepada sayid tersebut.” (Nasihat, 9/1745)
Snouck juga mengungkap banyaknya sentiment negative dari kaum terpelajar yang dimuat dalam Surat Kabar Asing, diantaranya:
“Dalam hal ini, Usman bin Aqil [sayid yang terkenal itu), membantu Pemerintah Belanda. Ia hanya memikirkan diri sendiri, dan tidak memikirkan kaum Mohammadan.” (Nasihat, 9/1745)
“Dalam nomor 1255 surat kabar Anda telah saya baca surat dari Jawa, yang memberitakan tentang apa yang dikatakan oleh Usman bin Aqil di depan saudara-saudara seimannya orang pribumi [ini dikatakan dengan maksud mencemooh, seperti juga dalam surat-surat lain ia disebut sebagai Usman atau Syekh Usman, dan bukan Sayid Usman], sesudah salat Jumat, yaitu bahwa Konsul Turki yang dahulu telah terpaksa meninggalkan Betawi. Karena sayalah konsul tersebut yang telah pergi, dan karena pemberitaan tersebut hanya karangan belaka, maka saya sampaikan surat ini kepada Anda. Dengan permintaan sudilah memuatnya dalam surat kabar Anda, agar pem-beritaan itu dimusnahkan, dusta itu digagalkan, dan agar Pemerintah Pusat Yang Mulia hendaknya ditaati, serta pendiriannya yang luhur dijunjung. Sebab berjuta-juta penduduk Jawa dan negeri-negeri sekitarnya sangat. percaya terhadapnya.”. (9/1747)
“Sayid Usman berlagak beragama di hadapan orang-orang seiman, misalnya, dengan menolak menghadiri pesta perkawinan di mana terjadi hal-hal yang dilarang oleh syariat muslim, seperti musik dan sebagainya. Tetapi, ia mengiringi Gubernur Jenderal Van der Wijk ke Tanjung Priuk, padahal ia tahu bahwa di sana akan adi baik musik maupun hal-hal lain yang terlarang. Sementara itu pernah saya melaporkan kepada Anda, bagaimana ia bangkit dan meninggalkan pertemuan kaum sayid, di mana diperdengarkan musik. Padahal musik itu pun telah dihentikan demi kemauan dia. Begitu pula dalam pesta perkawinan anak Umar Aidid [kepala penduduk Arab] di Betawi in me-nyuruh agar dibacakan riwayat Maulid Nabi sebelum potret Ratu Wilhelmina dipindah dari ruang pesta itu. Tetapi satu tahun sebelumnya, ia menyuruh agar dicetak sebuah doa urituk Sang Ratu, yang dibacakan di mesjid-mesjid pada tanggal 2 September 1897. Dan sekarang ia pun akan segera menyemat-kan bintang yang diterimanya dari Sri Ratu (!). Lalu apakah yang masih tersisa dari kesalehannya?” (Nasihat, 9/1748)
“Al-Ma’lumat, tahun 1899, No. 146. Surat dari Jawa’, tertanggal 10 Jumadilakhir 1317 [16 Oktober 1899]. Sayid Usman, pada suatu hari Jumat di mesjid, seolah-olah berdasar-kan kesalehannya telah mengucapkan fatwa. Tetapi dalam fatwa ini, ia menggunakan ungkapan-ungkapan kemarahan yang tidak pantas. Selanjutnya ia menyuruh agar dicetak surat selebaran kecil, yang di dalamnya diper-tentangkan delapan perintah Allah dengan delapan larangan-Nya. Tetapi tentang hal yang disebut terakhir ini, wartawan kita ingin mengajukan edisi yang telah disempurnakannya, di bawah semboyan: ‘Fakta lebih gamblang daripada kata. Wartawan tersebut memberikan catatan pada naskah Sayid Usman, dengan maksud menuduh, bahwa ia mempunyai pamrih keduniaan, kemarahan, kepuasan diri, keras kepala, acuh tak acuh terhadap képentingan kaury Mohammadan dan membantu orang lalim, dan sebagainya. Dengan singkat ingin memperingatkan tentang kejahatannya yang jauh lebih banyak dan lebih parah daripada apa yang harus diperingatkannya terhadap orang-. orang seiman.” (Nasihat, 9/1748)
“Sebagaimana semua orang yang berdosa merasa dirinya risau jika di-ingatkan kepada dosa mereka, di sini kita lihat sikap pemerintah, yang setiap kali jika surat kabar seperti itu tiba di sini, seolah-olah memandangnya sebagai membawa armada yang bersenjatakan meriam-meriam Krupp. Maka Syekh Usman, sahabat para penguasa, telah menerjemahkan surat kabar Al-Ma’lumat Nomor 131, seluruhnya bagi mereka, dan berkali-kali ia melontar-kan ancaman bagi wartawannya.” (Nasihat, 9/1750)
“Al-Ma’lūmāt, Tahun 1899, No. 154. Sepucuk surat dari Betawi ter-tanggal 10 Rajab 1317 [14 November 1899], yang pertama-tama membicara-kan kejahatan “Syekh Uşman” [sebutan yang meremehkan bagi Sayid Usman). Ia merasa sangat tersinggung oleh apa yang termuat dalam No. 131 dalam Al-Ma’lumāt. Tetapi, ia sia-sia mencoba mendorong beberapa orang Arab terpandang untuk menandatangani satu bantahan atas kabar tersebut. Sekarang, dengan bantuan seorang pegawai Belanda, ia telah memperoleh beberapa tanda tangan lain dengan tekanan dan akan mencoba melawan Al-Ma’lumat dengan hal-hal yang gila seperti itu. “Syekh Usman” pun sejak saat itu, pada setiap hari Jumat sesudah salat, mengadakan pidato yang seakan-akan saleh. Tetapi karena setiap orang mengerti maksudnya, ia seolah-olah berbicara pada angin.” (Nasihat, 9/1754)
Kebiasaan itu sekarang diteruskan olek cucu menantu Usman bin Yahya, Riziq Syihab. Ia sering dalam setiap hari Jum’at berkeliling ke banyak masjid-masjid di Jakarta dan sekitarnya lalu berpidato setelah solat Jum’at.
“Majalah smarat al funun 21 Nopember 1899 “Usman bin Aqil berusaha sekuat-kuatnya untuk membebaskan Pemerintah Belanda dari semua tuduhan yang dilimpahkan terhadap pihaknya. Barangkali ia mengharapkan sebuah bintang baru.” (Nasihat, 9/1755)
“Dalam No. 139 dari, Al-Ma’lumat, semua orang seiman, di Mesir, India, Aljazair, Tunis, Fez, dan “Jawa” diimbau agar memberi bantuan kepada orang-orang dalam wilayah Aidin yang terkena gempa bumi. Tetapi kami yang di “Jawa”, dengan berbagai alasan terpaksa minta maaf karena tidak dapat ikut serta. Pemerintah memperhatikan semua tindak-tanduk kami di sini; dan pengumpulan uang seperti yang dimaksud akan memerlukan se-orang pemuka. Tetapi seorang seperti Sayid Usman yang secara tulus-setia kepada orang Belanda itu, akan takut kehilangan kedudukannya di pemerintah, kalau ia berbuat begitu. Lebih-lebih hal itu tidak dapat diharapkan dari Sayid Umar Aidid, kepala penduduk Arab. Sebab bagi pemerintah, ia harus memperhatikan segala hal dan kemudian, seperti para kepala penduduk Arab lainnya, ia hanya memikirkan kepentingarinya sendiri. Jadi harus ada prakarsa dari pihak Konsul Turki di Betawi. Tetapi pejabat tersebut terhalang dari tindakan itu karena alasan-alasan yang tidak diketahui.” (Nasihat, 9/1757)
Misbahu Syraq kairo no 39 28 januari 1900“Sangat mengesalkan ialah pertolongan Usman bin Aqil yang diberikan kepada pemerintah, yaitu cara ia melaporkan dara-saudaranya. Bagaimana ia di mana-mana berkhotbah, bahwa Pemerintah Luhur [Pemerintah Turki] tidak campur tangan lagi dengan kaum mukminin, di kawasan sini. la meramalkan hal yang buruk kepada orang yang banyak pergi ke tempat Konsul Turki di Betawi. Usman bin Aqil digunakan oleh orang Belanda demi kepentingan mereka dan guna merugikan kaum Mohammadan.” (Nasihat, 9/1768)
Demikian sosok Usman bin Yahya Ba’alwi dalam dokumen primer dari laporan Snouck Hurgronje. Semoga bermanfaat.
Penulis: Imaduddin Utsman Al-Bantani