Daftar Reportasi Media Tentang Pendiskreditan Habaib Ba’alwi Terhadap NU dan Kiai-Kiai NU

Posted by: Admin 29-Jun-2026 Tidak ada komentar

Faizal Assegaf Ba’alwi Menghina NU dan Hadratusyaikh K.H. Hasyim Asy’ari

Pernyataan-pernyataan penghinaan Faizal Assegaf terhadap Hadratusyaikh K.H. Hasyim Asy’ari mulanya berasal dari rekaman video panjang yang disiarkan oleh Faizal Assegaf melalui kanal YouTube pribadinya “Faizal Assegaf Official”. Namun video tersebut kini sudah dihapus. Bahkan ketika channelnya kita telusuri terdapat keterangan “ channel tidak memiliki konten apapun”. hal itu, mungkin terkait viralnya diskursus batalnya nasab Ba’alwi dan laporan LBH Ansor terhadapnya terkait penghinaannya itu. Walau demikian, pesan-pesan penghinaan itu telah menyebar di media-media social karena potongan-potongan video disebarkan oleh pendukung atau penentang Faizal Assegaf.

Misalnya Chanel ABDUL FATAH, channel ini membuat Judul “@Faisal As-Segaf Penghina NU dan Pendiri NU K.H. Hasyim Asy-‘arie”. Channel Abdul Fatah dapat diakses melalui Tautan: https://youtube.com/shorts/Q-oa353bJpQ . Dalam video itu Faizal Assegaf mengatakan:

“…gambaran bahwa ekologi sosial Nahdlatul Ulama ini adalah bakul sampah, ini… bakul sampah yang akan terus lahir ajaran Hasyim Asy’ari yang expired, pendiri NU, salah satu ya. Ini sudah kedaluwarsa, sudahlah. Hasyim Asy’ari kedaluwarsa, expired. Banyak orang-orang NU yang menjadi error, yang mengklaim bahwa Hasyim Asy’ari itu adalah Wali Allah. Enggak ada kesepakatan ulama seluruh Indonesia dia Wali Allah. Jadi silakan saja menghabiskan waktu dengan kebodohan bersama pikiran-pikiran Hasyim Asy’ari. Kami tidak mau.”

Perhatikan! Faizal Assegaf menggunakan metafora yang sangat peyoratif (merendahkan) dengan menyebut ekologi sosial NU sebagai “bakul sampah” dan pemikiran K.H. Hasyim Asy’ari telah “expired” (kedaluwarsa). Menilai pemikiran Hadratussyaikh K.H. Hasyim Asy’ari sebagai hal yang kedaluwarsa adalah sebuah kekeliruan berpikir. Kitab-kitab karya beliau, seperti Adabul ‘Alim wal Muta’allim (etika guru dan murid) atau Risalah Ahli Sunnah Wal Jama’ah, justru meletakkan fondasi moderasi beragama (wasathiyah), persatuan umat (ukhuwah), dan nasionalisme yang hingga hari ini menjadi pilar stabilitas sosial dan politik di Indonesia. Fondasi ini terbukti paling adaptif dalam menjaga keutuhan bangsa, jauh dari sifat kedaluwarsa.

Penggunaan kata-kata kasar ini tampaknya sengaja dipilih untuk menyerang aspek psikologis massa, alih-alih melakukan kritik ilmiah atau akademis yang berbasis argumen data. Ia juga mempersoalkan klaim kewalian K.H. Hasyim Asy’ari dengan alasan “tidak ada kesepakatan ulama seluruh Indonesia.” Dalam tradisi Islam, terutama di kalangan santri, status kewalian seseorang bukanlah produk dari “pemilu” atau konsensus formal (ijma’) birokratis para ulama. Penghormatan terhadap K.H. Hasyim Asy’ari sebagai kekasih Allah (Waliullah) lahir secara kultural dari pengakuan umat atas kesalehan, ilmu, pengorbanan, dan karamah sosial beliau dalam memerdekakan serta mendidik bangsa. Menuntut adanya “kesepakatan formal seluruh Indonesia” untuk status spiritual adalah kerangka berpikir yang keliru.

Sebagai sosok yang berada di ruang publik, penggunaan diksi “kebodohan” dan “error” kepada para ulama terdahulu justru menabrak nilai akhlak yang menjadi inti dari ajaran Islam itu sendiri, nilai yang seharusnya dipegang teguh oleh individu pengklaim nasab Nabi seperti Faizal, walau klaim itu kini telah terungkap terbukti palsu.

Secara kritis, pernyataan Faizal Assegaf di atas bukanlah sebuah kritik pemikiran (kritik ideologis), melainkan sebuah serangan personal dan institusional (argumentum ad hominem). Pernyataan tersebut mengabaikan kontribusi sosiologis K.H. Hasyim Asy’ari dalam membangun konsensus kebangsaan yang membuat Indonesia bisa bertahan hingga hari ini.

Ungkapan Faizal Assegaf Ba’alwi yang menuduh NU sebagai “bakul sampah” adalah sebuah perwakilan pernyataan bahwa semua umat yang bernaung dalam NU hanyalah kumpulan-kumpulan manusia-manusia sampah. Hal itu, mungkin, karena ia merasa berasal dari klan suci sehingga menganggap komunitas lain hanyalah sampah. Dan “klan suci” itu kini telah tersingkap siapa mereka sebenarnya: jangankan bergenetik Nabi Muhammad SAW, bergenetik Nabi Ibrahim saja tidak.

Apa yang dianggap “sampah” oleh Faizal adalah tokoh-tokoh yang telah berhasil mengislamkan Nusantara, karena NU hari ini pada hakikatnya adalah pelembagaan dari pemikiran, praktik ber-islam yang di bawa oleh para penyebar awal Islam, Walisongo. Istilah “NU Bakul Sampah” adalah reduksi verbal yang lahir dari kebencian, namun gagal memahami sosiologi keagamaan Indonesia.

Pernyataan-pernyataan serupa Faizal Assegaf tentang NU dan Hadratusyaikh terdapat juga dalam channel-channel lain seperti Chanel “Sholawat Dahsyat”, dengan Judul: viral faisal assegaf vs NU #shorts dengan Tautan video: https://youtube.com/shorts/SdD_e3rPxys.

Dalam video itu Faizal Assegaf mengatakan: “harus pakai otak otak otak, jangan bodoh, jangan mau dibodoh bodohi, Jadi jangan sombong! Apa kalian bilang Hasyim Asy’ari pikiran cemerlang? Enggak juga. Apakah dia seorang ulama? Enggak juga. Bangkrut pengetahuan saya kalau saya mengatakan dia seorang ulama.”

Begitu pula dalam Chanel “Benteng Nusantara” dengan Judul “FAIZAL ASSEGAF RENDAHKAN MBAH HASYIM ASY’ARI #shorts” Tautan video: https://youtube.com/shorts/c8M6U0GMC8o .

Dalam video itu Faizal Assegaf mengatakan “Hasyim Asy’ari kedaluwarsa, expired. Yang basisnya itu kan di penduduk-penduduk padat Jawa Timur. Di luar itu enggak ada orang mengagumi Hasyim Asy’ari, enggak ada apa-apa. Pengaruh Hasyim Asy’ari itu dengan misal Rhoma Irama, yang juga menggunakan lagu untuk berdakwah kepada umat… Rhoma Irama itu, sebelum konser untuk berdakwah, itu sudah ribuan, ratusan ribu orang yang mengumpul. Hasyim Asy’ari ini lokal.”

Faizal Assegaf Ba’alwi Menghina Keluarga Gusdur

Dalam Chanel “Cahaya Hidayah” dengan Judul “Faizal Assegaf Baklawi Hina Kiyai H Hasyim Asy’ari!! Di Mana Banser Dan Santri??” dengan Tautan video: https://youtu.be/o5FBkfCezas, Faizal Assegaf Ba’alwi mengatakan:

“Terus kalian bilang kalian besar, kalian teror saya, maki-maki saya, malu kalian. Orang kalau besar dalam satu organisasi yang sangat besar, harus ada juga kualitasnya yang besar. Unggul dengan kualitasnya, bukan unggul dengan kuantitasnya. Jadi yang mengambil manfaat dari organisasi ini—organisasi NU yang dibangun secara tulus oleh para ulama-ulama terdahulu—adalah keluarga Abdurrahman Wahid… Klaim-klaim yang sangat berlebihan karena saya punya catatan ini jelas. Saya melihat kok pada periode bulan Oktober hingga bulan November 1945, tidak ada dokumen resolusi yang namanya dibuat oleh Hasyim Asy’ari. Sebuah kumpulan sejarah yang diterbitkan oleh Gramedia, lembaga yang selama ini sangat kredibel dan tidak sembarangan mengeluarkan sebuah penerbitan buku kalau tidak melalui proses verifikasi yang ketat. Kalangan Muhammadiyah yang pada saat itu ya seperti tokoh Hasan Gipo itu, sosok dari akar rumpun Muhammadiyah, presiden pertama PBNU. Saya sudah nonton kalian punya berbagai video dan pernyataan-pernyataan konyol yang menyerang diri saya pribadi, bahwa saya ini bersuara mengkritisi sejarah NU yang saya anggap sangat-sangat menyimpang dari awal pembentukannya hingga proses selama 90 tahun lebih. Dan kemudian saya mengkritisi perilaku oknum-oknum NU yang saya sebut dedengkot-dedengkot dan loyalis-loyalis yang mengatasnamakan—yang bertopengkan NU—tapi dalam kenyataannya sangat-sangat bobrok, yang membuat kalian tersinggung. Dan eh kalian menuduh saya seolah-olah saya ini mendapatkan sesuatu atau disuruh oleh orang lain untuk berbicara kebenaran di ruang publik yang menjadi hak setiap warga negara, apalagi saya ini umat Islam Aswaja. Apa-apaan kalian? Kalau kalian punya bukti saya mendapatkan sesuatu imbalan untuk mengobok-obok NU, saya minta sekarang kalian arahkan bukti itu kepada aparat penegak hukum. Sangat bodoh kalian, begitu bencilah kalian sama saya yang kalian klaim punya bukti bahwa saya itu dipakai, ditunggangi oleh kepentingan lain untuk mengobok-obok NU. Laporkan sana di aparat, bawa buktinya! Tapi saya kasih ingat ya, ucapan kalian sangat berlebihan. Saya ini cuma satu semut, semut menghadapi NU yang kalian bilang sangat-sangat besar, yang disebut dengan ormas terbesar di Indonesia, raksasa. Seekor semut melawan raksasa tidak ada pengaruh. Kalian begitu besar, semua kalian klaim kalian paling besar di Indonesia, omong kosong, nol besar! Kalau kalian punya bukti, beberkan buktinya itu kepada publik. Pembunuhan karakter kepada diri saya tidak ada pengaruh karena fakta-fakta kebenaran tidak bisa kalian ubah. Mau apa? Mau pendekatan Islam, Kyai Haji Hasyim Asy’ari itu adalah punya karamat wali-wali Allah, paling banyak di NU. Sekarang saya tantang kalian, kalian baca Yasin, baca Qur’an, kita mubaalah. Kalau tuduhan-tuduhan kalian mengatakan saya mendapatkan sesuatu, maka niscaya saya hancur karena karamat Hasyim Asy’ari, karena karamat wali-wali NU. Tetapi kalau tuduhan-tuduhan itu kalian tidak bisa buktikan, saya juga bermohon kepada Allah, kepada Baginda Rasul, ‘Hancurkan penipu-penipu seperti kalian! Eh kecil, saya bukan orang baru di ruang publik Indonesia. Saya berjuang 20 tahun lebih di luar sistem negara untuk melakukan upaya perubahan tanpa meminta imbalan apa pun. Kenapa saya bebas berbicara? Karena saya tidak terikat. Saya terikat oleh nurani saya dan akal sehat saya. Saya mau buktikan sesungguhnya siapa yang mencari keuntungan faedah dari NU ini? Itu anak-anak Gus Dur. Terlalu banyak mereka bikin yayasan-yayasan, foundation-foundation, untuk mencari uang dengan mengkultuskan Hasyim Asy’ari, mengkultuskan Gus Dur untuk mereka mendapatkan faedah fulus, yang mereka tidak pernah melaporkan kepada seluruh Ahli Sunah Wal Jamaah di Indonesia, umat NU. Ingat ya, saya katakan ya, dari awal kritik saya terhadap NU adalah organisasi massa, organisasi NU. Kalau menyangkut dengan masyarakat NU atau masyarakat muslim berpaham Ahli Sunah Wal Jamaah, saya tidak menggubris karena saya pikir kelompok ini terpisah dari organisasi. Harus, harus pakai otak, otak, otak! Jangan bodoh, jangan mau dibodoh-bodohi! Kenapa saya menentang pengkultusan terhadap Hasyim Asy’ari? Karena itu semua dibuat bukan untuk kepentingan umat. Organisasi dengan simbol Hasyim Asy’ari ini dibuat untuk kepentingan melayani segelintir orang dari keluarga mereka. Eh jangan saya buka terlalu jauh tentang praktik-praktik korupsi yang dilakukan secara norak oleh PKB, oleh petinggi-petinggi partai PKB yang selama ini merasa paling NU, paling norak. Kalian bobrok! Jangan kalian menafikan sejarah! Sejarah organisasi NU ini dibentuk sejak awal dengan melibatkan seluruh keragaman partisipasi dari kalangan habaib, kalangan Muhammadiyah yang pada saat itu ya seperti tokoh Hasan Gipo itu, sosok dari akar rumpun Muhammadiyah, presiden pertama PBNU, dan juga dari kyai-kyai di seluruh Indonesia. Hasyim Asy’ari itu hanya mencatut—mencatut ya saya bilang ya—dalam dokumen paling penting mukadimah qanun asasi, qanun asasi NU itu mencatut mengambil tokoh terbesar pada saat itu yang namanya Sayyid Abdullah bin Hasan Assegaf. Dia juga memanfaatkan kebesaran tokoh Arab-Arab. Ingat Hasan Gipo sebagai presiden pertama pembentukan PBNU. Organisasi kalau saya mau buka sejarah, ini paling banyak partisipasi kalangan-kalangan muslim Tionghoa, muslim Arab, muslim di luar Jawa, muslim Jawa Tengah, muslim tokoh-tokoh ulama dari Jawa Barat. Keragaman PBNU tidak dibentuk oleh Hasyim Asy’ari yang nol besar, yang hanya keluarganya saja mengklaim seolah-olah menjadi tokoh utama. Saya punya data-data sejarah dan saya melihat sejarah tidak dalam rakitan-rakitan sejarah yang kalian bikin untuk mengelabui umat, mengklaim dengan akal sehat yang sangat tidak bisa diterima akal sehat, yang dilakukan hanya asabiah fanatik kelompok. Saya punya catatan dari hari ke hari tentang Indonesia, sebuah kumpulan sejarah yang diterbitkan oleh Gramedia, lembaga yang selama ini sangat kredibel dan tidak sembarangan mengeluarkan sebuah penerbitan buku kalau tidak melalui proses verifikasi yang ketat. Tidak ada terlalu unggul yang namanya itu Hasyim Asy’ari. Kenapa tiba-tiba dalam perjalanan seolah-olah dikultuskan sedemikian rupa, diagung-agungkan begitu besar, yang ujungnya anak cucunya itu pergi mencari uang lewat yayasan-yayasan foundation yang tidak pernah ada laporan transparansinya kepada publik, yang tidak ada tujuannya untuk apa. Yang berimplikasi setiap orang mengkritik NU dituduh macam-macam, berafiliasi sama kelompok ini, ditunggangi oleh kelompok ini, dibayar oleh kelompok ini. Malu kalian!”

Demikian isi perkataan Faizal assegaf Ba’alwi terhadap NU, K.H. Hasyim Asy’ari dan Gusdur. Dari transkip pernyataan di atas kitab isa memetakan narasi pejorative dan hinaan Faizal kepada beberapa entitas individu dan komunitas:

Pertama hinaan dan tuduhan kepada keluarga K.H. Abdurrahman Wahid (Gusdur). Ia Menuduh keluarga Gusdur sebagai satu-satunya pihak yang paling mengambil manfaat finansial dari kebesaran NU. Ia juga Menuduh mereka sengaja “mengkultuskan” K.H. Hasyim Asy’ari dan Gus Dur demi mendapatkan keuntungan materi (fulus) melalui yayasan-yayasan (foundation). Ia juga menuduh yayasan tersebut tidak transparan dan tidak melaporkan keuangannya kepada umat.

Dari sini kita merasakan begitu dalam rasa ketidaksukaan seorang Ba’alwi ini terhadap keluarga Gusdur. Yayasan yang didirikan oleh keluarga Gus Dur (seperti Gusdurian Network, The Wahid Institute, dll.) bergerak di ranah kemanusiaan, advokasi hak minoritas, perdamaian global, dan pemberdayaan ekonomi akar rumput. Lembaga-lembaga ini diaudit secara profesional dan bekerja sama dengan berbagai lembaga kredibel, bukan tempat “mencari uang pribadi”. Warga NU menghormati Gus Dur dan K.H. Hasyim Asy’ari bukan karena dipaksa oleh keluarga, melainkan karena jasa besar kedua tokoh tersebut dalam sejarah bangsa (K.H. Hasyim Asy’ari sebagai Pahlawan Nasional, Gus Dur sebagai Bapak Pluralisme dan Presiden RI ke-4). Menyamakan rasa cinta kultural (mahabbah) umat dengan “pengkultusan demi fulus” adalah penyederhanaan yang sinis dan keliru.

Faizal Assegaf Ba’alwi menuduh K.H. Hasyim Asy’ari “mencatut” nama Ahmad bin Abdullah Assegaf

Dalam transkip di atas, Faizal Assegaf menuduh K.H. Hasyim As’ari “mencatut” tokoh Ba’alwi dalam Muqaddimah Qanun Asasi tanpa bukti manuskrip akademis. Demikian itu adalah fitnah sejarah. Pengutipan ucapan Ahmad bin Abdullah Assegaf (ia menyebutnya secara salah Abdullah bin Hasan Assegaf) yang menghimbau masyarakat untuk masuk NU memang ada dalam Muqaddimah Qanun Asasi. Walau tidak ada bukti pembanding tentang ucapannya itu kecuali dari Qanun Asasi, tetapi ketika yang meriwayatkannya itu orang yang terbukti Tsiqah (terpercaya) seperti K.H. Hasyim Asy’ari, riwayatnya itu dapat diterima. Tidak ada satupun karya-karya Mbah Hasyim Asy’ari yang menyampaikan Riwayat sebuah kutipan kecuali kita menemukan kebenaran dari kutipannya itu. Menerima kutipan tentang Ahmad bin Abdullah Assegaf dalam Muqaddimah Qanun Asasi dari sosok tsiqah seperti K.H. Hasyim As’ari tanpa adanya “mu’arid” adalah sesuatu yang dibenarkan dalam metodologi ilmu hadits dan historis. Sedangkan untuk perawi yang telah didapati pernah berdusta dalam pengutipan, maka kutipan-kutipannya harus diverifikasi ketat.

Ketika kita menerima Riwayat dari ulama-ulama Ba’alwi tentang sejarah dan nasab misalnya, kita harus memverifikasi secara ketat, karena kegemaran mereka dalam berdusta tentang nasab dan sejarah. Sosok ulama-ulama Ba’alwi seperti Ali al-Sakran, Muhammad Khirid, Alwi bin Tahir Al-Haddad, Salim bin Jindan, Abdullah Muhammad al-Habsyi, dan sebagainya adalah ulama-ulama yang harus ditolak riwayatnya karena kedapatan beberapa kali berdusta dalam pengutipan.

Seharusnya Faizal Assegaf berterimakasih kepada K.H. Hasyim Asy’ari, bahwa tokoh Ba’alwi yang tidak dikenal itu ucapannya dikutip, sehingga namanya sampai saat ini ada dalam Qanun Asasi. Sosok Ahmad bin Abdullah Assegaf, bisa kita katakan sebagai sosok yang tidak konsisten, hal itu jika kita cermati kata-katanya yang dikutip dalam Qanun Asasi yang menyerukan orang untuk masuk NU, tetapi kemudian pada 8 Maret tahun 1928 ia sebagai sekretaris mengirim surat kepada pemerintah Belanda agar mengesahkan perkumpulan baru yang ia dirikan yang bernama Rabitah Alawiyah (RA). pendirian perkumpulan baru yang bergerak dalam bidang yang sama dengan NU, yaitu RA, menegasi seruannya sebelumnya agar orang masuk NU. Dalam konteks ini, perkataan Faizal Assegaf bahwa K.H. Hasyim Asy’ari mencatut nama Ahmad bin Abdullah Assegaf ada benarnya jika Faizal Assegaf dapat membuktikan adanya pernyataan “istidrak” (narasi lanjutan yang menganulir pernyataan sebelumnya) dari Ahmad agar kata-katanya dihapus dalam Qanun Asasi.

Dalam website resmi RA, Tujuan awal dibentuknya RA banyak kesamaan dengan NU. Dalam statuten pasal 3 RA disebutkan di antara tujuan dibentuknya RA adalah: mendidik anak piatu, menolong janda-janda, orang tidak mampu, fakir miskin, melaksanakan dan menyebarkan ajaran Islam dan Bahasa Arab dan ilmu lainnya. Tujuan dalam poin-poin ini sama dengan tujuan NU dalam statute NU saat pendiriannya. Jika keduanya sama mengapa harus membentuk lagi? Kenapa tidak ikut Nu saja?

Pada tahun 1928 juga RA membentuk perwakilan-perwakilan daerah yaitu di Probolinggo, Cianjur, Sukaraja, Tulung Agung, Bangil, Ende, Tegal, Jombang, Jember, Makassar, Mojosari, Lumajang, Malang, Sumenep dan Banyuwangi. Jadi, jika kita katakan bahwa ucapan Ahmad bin Abdullah Assegaf yang dimuat dalam Qanun Asasi itu tidak konsisten kita mempunyai “mubarrir” (dalil pembenar). Jika ia konsisten dan tulus mendukung NU, untuk apa kemudian ia menjadi penggerak berdirinya RA, padahal poin-poin tujuannya sama.

Ini adalah pelajaran sejarah yang penting bagi NU tentang akhlak dan sikap Ba’alwi terhadap NU yang dari dulu sampai sekarang tidak berubah: mencari celah menyaingi NU jika ada kesempatan atau menyusup di dalamnya jika kenyataan berbicara sebaliknya. Tetapi kadangkala pelajaran tentang sejarah banyak diabaikan oleh orang-orang yang tidak memiliki karakter kepemimpinan komunitas yang kuat.

Faizal Assegaf Menuduh Dokumen Resolusi Jihad Tidak Ada

Dalam transkip itu pula kita baca, Faizal Assegaf dengan begitu mudah mengklaim bahwa tidak ada dokumen Resolusi Jihad NU pada 22 Oktober 1945 yang dibuat untuk melawan penjajah. Padahal dokumen Resolusi Jihad disepakati dalam rapat ulama konsul-konsul NU se-Jawa dan Madura di Bubutan, Surabaya, yang dipimpin langsung oleh PBNU di bawah arahan Hadratussyaikh. Dokumen ini dimuat di berbagai surat kabar waktu itu (seperti Kedaulatan Rakjat). Mengatakan dokumen ini “tidak ada”, Faizal telah menghina intelektual NU sebagai pendusta, bahkan menganggap perangkat negara tidak berintegritas ketika menetapkan Hari Santri berdasarkan Resolusi Jihad yang ahistoris. Kenyataannya Resolusi Jihad itu bukan hanya diumumkan NU kepada Nahdliyyin tetapi juga dimuat oleh beberapa surat kabar waktu itu. Surat kabar itu adalah bukti primer yang tidak dapat dibantah siapapun bahwa Resolusi Jihad itu benar-benar kejadian historis di masa lalu. Berbeda dengan klaim-klaim kaum Ba’alwi tentang sejarah, seperti tentang bahwa Ali Al-habsyi Kwitang adalah penentu tanggal proklamasi, cerita itu hanya cerita fiksi yang difabrikasi untuk tujuan tertentu tanpa ada data sama sekali.

Jika Faizal Assegaf ingin bukti dokumen Resolusi Jihad silahkan buka arsip koran kedaulatan Rakyat Yogyakarta, edisi No. 26 tahun ke-I, Jumat Legi, 26 Oktober 1945:

Faizal Assegaf mencoba membangun narasi bahwa sejarah NU adalah sebuah “rekayasa” namun, argumentasi yang ia gunakan justru rapuh dan terbantahkan oleh data-data yang nyata. Hinaan dan tuduhan Faizal Assegaf kemudian dilaporkan oleh beberapa unsur NU pada tahun 2021. Laporan tersebut di antaranya dibuat oleh Ketua Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI NU), KH Rakhmad Zaelani Kiki, dan terdaftar dengan nomor LP/B/0668/XII/SPKT/Bareskrim Polri. Dalam proses pengusutannya, Bareskrim Polri telah memeriksa belasan saksi, yang terdiri dari saksi pelapor dan ahli bahasa maupun sosiologi.

Riziq Syihab Ba’alwi menghina Gusdur

Pada tanggal 1 Juni 2008, sekelompok massa termasuk laskar Front Pembela Islam (FPI) menyerang kelompok Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) yang sedang mengadakan acara di Monas. Penyerangan itu mengakibatkan para anggota AKKBB terluka. kemudian Gusdur mengecam kejadian tersebut. Pernyataan Gusdur masih bisa kita saksikan di Channel Badik Institute dengan link sebagai berikut: https://www.youtube.com/watch?v=nCc-vi_me-c

Dalam video itu Gusdur mengatakan:

“…organisasi bajingan. Tulis aja ‘bajingan’ gak usah ragu-ragu, saya yang bilang begitu. Saya bilang pada istri saya udah pulang aja, ngapain. Ah, saya dengar Kiai Maman, dari PKB Majalengka, atau dari Jawa Barat atau DPP, itu masuk rumah sakit gara-gara itu. Ya inilah, kalau yang pegang urusan penakut ya begini ini, mestinya dia yang diobrak-abrik ko malah kita yang diobrak-abrik. Ya nanti harus ditangkap semuanya sudah gak usah ragu-ragu…”

Lalu Riziq Syihab Ba’alwi berkata:

“Gusdur kan tidak melihat, dari mana dia bisa berkeyakinan, kok orang gak melihat berkeyakinan, Gus Dur itu buta mata juga buta hati. Gus Dur itu buta matanya, buta hatinya! Gusdur melihat dari mana, gusdur itu buta matanya buta hatinya…jadi Gusdur mengatakan seperti itu tidak benar dia tidak tahu apa-apa, saya sampaikan bahwa saat Gusdur menadi presiden RI itu di salah satu stasiun televisi, Gusdur menyatakan FPI harus bubar, tapi alhamdulillah dengan pertolongan Allah, empat bulan kemudian bukan FPI yang bubar, tapi Gusdur yang bubar jatuh dari kekuasaannya, kalua dia jadi presiden aja gak bisa bubarin FPI, bagaimana sekarang mau membubarkan FPI, dan saya ingatkan Gusdur itu antek Yahudi, kemarin baru pulang dari Israel.”

Pernyataan yang disampaikan oleh Rizieq Shihab Ba’alwi terhadap Gus Dur tersebut merupakan salah satu fragmen sejarah kontroversial dalam dinamika sosial-politik di Indonesia. Jika ditinjau dari perspektif etika, budaya akademik, budaya ketimuran, serta penghormatan terhadap figur ulama dan pemimpin negara, narasi tersebut dinilai tidak sepantasnya diucapkan.

Hal yang paling mencolok dari pernyataan tersebut adalah penggunaan keterbatasan fisik (kebutaan penglihatan) Gus Dur sebagai instrumen untuk menyerang kredibilitas berpikir dan spiritualnya. Dalam norma universal maupun ajaran Islam yang diajarkan oleh para ulama, menyerang atau merendahkan seseorang berdasarkan kekurangan fisik (cacat) sangat bertentangan dengan akhlakul karimah.

Al-Qur’an sendiri dalam berbagai ayat (seperti QS. Abasa) memberikan teguran keras terkait sikap meremehkan orang yang memiliki keterbatasan penglihatan. Menyamakan kebutaan mata dengan “kebutaan hati” kepada seorang tokoh yang dikenal luas memiliki kedalaman ilmu, merupakan bentuk simplifikasi yang kasar.

Gus Dur bukan hanya warga negara biasa, melainkan Presiden RI ke-4. Dalam etika bernegara, kritik terhadap seorang pemimpin atau mantan pemimpin seharusnya diarahkan pada kebijakan, gagasan, atau tindakan politiknya secara objektif, bukan berupa pembunuhan karakter (character assassination). Narasi “antek Yahudi” adalah pelabelan politis yang sering digunakan untuk mendelegitimasi lawan bicara tanpa menyajikan argumen atau bukti konkrit yang valid. Gusdur ke Israel justru demi menggapai kemerdekaan rakyat palestina.

Lalu pada 4 Juni 2008, Riziq Syihab Ba’alwi ditangkap polisi di rumahnya di Petamburan. Rizieq dikenai empat pasal, yakni Pasal 170 KUHP tentang pengeroyokan, Pasal 156 KUHP tentang penghasutan, Pasal 221 KUHP tentang menyembunyikan pelaku kejahatan, dan Pasal 351 KUHP tentang akibat penganiayaan.

Rizieq Ba’alwi menantang Mubahalah Gusdur

Pada tanggal Selasa 10 Juni 2008 Riziq menjalani pemeriksaan di Ruang Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Jl Sudirman, Jakarta, sekitar pukul 15.00 WIB. Lalu ketika keluar kepada wartawan Riziq menyatakan:

“Saya tantang Gus Dur untuk mubahalah. Gus Dur silakan bawa anak dan istrinya, saya juga demikian. Kita bersumpah di hadapan Allah, siapa yang benar diberkati. Siapa yang salah dikutuk dan dilaknat, mati dalam keadaan hina. Kalau Gus Dur berani dan merasa benar, ayo kita mubahalah,” kata Habib Rizieq lantang. (https://news.detik.com/berita/d-953765/habib-rizieq-tantang-gus-dur-perang-sumpah )
Secara sosiologis, tantangan Riziq yang disampaikan secara lantang di depan media lebih condong berfungsi sebagai retorika politik untuk menjaga moralitas pendukung dan mengonsolidasikan basis massa. Dalam struktur masyarakat yang paternalistik, figur yang berani menantang mubahalah sering kali langsung dipersepsikan sebagai pihak yang “pasti benar” oleh pengikutnya, terlepas dari validitas argumen hukumnya.

Bagi Gus Dur yang tumbuh dalam tradisi fiqih pesantren (Nahdlatul Ulama), penyelesaian masalah umat harus mengacu pada kaidah-kaidah ushul fiqih dan kemaslahatan publik (mashlahah ammah). Gus Dur melihat FPI dari kacamata hukum negara dan ketertiban sosial.

Oleh karena itu, merespons tantangan mubahalah untuk urusan ormas dianggap tidak relevan oleh kalangan silsilah keilmuan pesantren, karena mubahalah tidak boleh diobral untuk kepentingan ego kelompok atau perdebatan politik praktis. Secara ilmiah, tantangan mubahalah dari Riziq kepada Gus Dur mengalami salah penempatan. Instrumen spiritual yang sakral dan berisiko tinggi ini direduksi menjadi alat legitimasi dalam perseteruan sosial-politik.

Meski Gusdur tidak merespon mubahalah itu, akhir dari kasus Monas tersebut membawa Riziq Syihab Ba’alwi di vonis bersalah. Pada tanggal 31 Oktober 2008, Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat menyatakan Rizieq Shihab terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah, lalu menjatuhkan vonis hukuman 1,5 tahun (18 bulan) penjara (https://news.detik.com/berita/d-1028386/habib-rizieq-divonis-1-5-tahun).

Rizieq Syihab Menentang Wacana Islam Nusantara milik NU

Senin 29 Maret 2015 Detiknews memberitkan bahwa muktamar NU akan dilaksanakan di Jombang pada Bulan Agustus mendatang. Tema utuhnya adalah ‘Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia’ (https://news.detik.com/berita/d-2853861/muktamar-nu-digelar-di-4-ponpes-jombang-tema-besarnya-islam-nusantara).

Kemudian pada 18 Juli 2015 Riziq Syihab Ba’alwi mempublis penentangannya terhadap wacana Islam Nusantara yang digelontorkan NU tersebut. Penentangan itu tereportase dalam media merahputih.com.

Riziq menyatakan: “Salah satu taktik yang digunakan Belanda dulu adalah adu domba antara masyarakat adat dengan ulama, contoh perang padri di Sumatera Barat,” katanya. Dia juga menuding bahwa pengusung Islam Nusantara adalah orang-orang yang sudah menyelewengkan ajaran Islam, sebab, apa yang diinginkan para pengusung islam nusantara ini adalah menjauhkan beberapa doktrin islam dari yang semestinya. Dalam akun FB, Riziek Shihab menulis, “Islam Nusantara No, Islamkan Nusantara Yes,”.

Riziq Syihab Menentang Keputusan Munas Alim-Ulama NU di Banjar

Detiknews mereportase Munas (Musyawarah Nasional) Alim-Ulama NU tahun 2019:

“Penutupan Munas Alim Ulama dan Konbes NU berlangsung di Ponpes Miftahul Huda Al Azhar, Citangkolo, Banjar, Jawa Barat, Jumat (1/3/2019). Rekomendasi-rekomendasi yang dihasilkan merupakan keputusan rapat pleno Munas Ulama NU, baik yang berkaitan dengan agama maupun organisasi. Poin pertama yaitu istilah kafir tidak dikenal dalam sistem kewarganegaraan pada suatu negara dan bangsa. Maka setiap warga negara memiliki hak yang sama di mata konstitusi. Maka yang ada adalah nonmuslim bukan kafir” (https://news.detik.com/berita/d-4449710/5-rekomendasi-munas-ulama-nu-soal-sebutan-kafir-hingga-sampah-plastik).

Riziq Syihab Ba’alwi menetang keputusan ini sebagaimana diberitakan Suara Islam.id, ia mengatakan:

“Dan dalam ajaran Islam, Non Muslim disebut Kafir. “Lalu kenapa pada sewot, itu Hak kami sebagai seorang Muslim…!!!”… “Kafir itu istilah dari Alquran & As-Sunnah serta Ijma, kok NU mau melarang? Apa NU sudah jadi aliran sesat? Atau NU sudah jadi agama baru ??? Astaghfirullahal’adziim,” tandasnya ( https://suaraislam.id/habib-rizieq-tanggapi-rekomendasi-nu-jangan-sebut-kafir-pada-nonmuslim/)

Dari berita ini kita mengingat Kembali betapa, orang yang hari ini mencari teman dari kiai-kiai NU, bahkan memuji-muji NU karena nasabnya batal, dulu begitu jumawa mediskriditkan hasil musyawarah ulama-ulama NU.

Taufiq Assegaf Pasuruan Menentang Hasil Musyawarah Ulama NU

Taufiq Assegaf yang sekarang menjadi ketua Rabitah Alawiyah (RA) dulu, tahun 2019 menentang keputusan musyawarah ulama NU tentang sebutan non muslim untuk menggantikan kata kafir. Dalam ceramahnya yang diunggah Sunsal Media di YouTube dan dipublikasikan pada 4 Februari 2019, Taufiq menyatakan, perlu meluruskan masalah ini agar tidak berlarut dan membingungkan umat.

“Panggilan kafir dan nonmuslim. Perhatikan. Itu bukan keputusannya ulama. Itu komentarnya dua orang saja, profesor-profesor ini. Jadi itu bukan keputusan ulama. Yang ada keterangannya begini loh, dilarang kita mengganggu orang, sekalipun orang kafir, dengan panggilan, “hei kafir”. Paham ya. Kalau memang itu menjadi keberatannya dia,” (https://www.faktakini.info/2019/03/tegas-habib-taufiq-ganti-kafir-dengan.html#gsc.tab=0).

Taufiq Assegaf meminta pemerintah tindak tegas anggota Banser

Pada 22 Oktober 2018 di Hari Santri Nasional belasan Banser Ansor NU membakar bendera HTI di Garut Jawa Barat. Kalangan non NU protes dan menuduh Banser sengaja membakar kalimat “La ilaha ilallah”. Ketua Ansor Gus Yaqut menyatakan yang dibakar Banser itu adalah bendera ormas terlarang HTI yang kebetulan menjual kalimat tauhid sebagai benderanya. Dalam masivnya protes itu Taufiq Assegaf Ba’alwi ikut menyalahkan Banser bahkan meminta pemerintah menindak tegas anggota Banser NU.

Aktualnews mereportase permintaan Taufiq Assegaf untuk menindak tegas Banser tersebut sebagai berikut:

“Oleh sebab itu, Habib Taufiq meminta kepada pemerintah untuk menindak tegas, dan bisa menyelesaikan masalah tersebut agar kedepan tidak terulang kembali. “Yang gini-gini tuh panggil, kamu tuh ngga ngerti, bodoh, harus tau, La Ilaha Illallah itu dasar utama untuk menjadi muslim, La Ilaha Illallah itu dasar kunci masuk surga, La Ilaha Illallah itu kunci khusnul khotimah. Gitu, ajarin,” katanya. “Jadi jangan pemerintah diam, anda (pemerintah) jangan adu domba rakyat ini. panggil apa, panggil ketuanya, ketua Bansernya panggil, ketua Ansornya panggil, pemerintah harus tegas,” sarannya.” (https://aktual.news/habib-taufiq-sebut-perilaku-banser-bakar-bendera-tauhid-tidak-memakai-ilmu/ )

Bahkan Taufiq menakut-nakuti Banser bahwa jangan sampai anda dikejar-kejar umat Islam. Di Jawa Timur anda mungkin kuat tetapi dilainnya ndak kuat. “…saya ngingatkan ini karena pedulinya saya dengan anda, kalau tidak bentar lagi umat Islam yang lainnya bangun akan anda dikejar-kejar nanti, yah di Jawa Timur anda mungkin kuat tetapi dilainnya ndak kuat (https://www.youtube.com/watch?v=x_xre-UU28A)

Taufiq Assegaf Tuduh Ketua Ansor Banyak Uang Setelah Menjabat

“…Kalau ada ketuanya kamu mengajak benci kepada orang keliru. Atau tidak sesuai dengan tujuannya untuk membackup ulama yang amar maruf nahi mungkar jangan mau nurut. Saya nasehati anda, jangan mau nurut. Anda gak punya apa-apa, ketua kamu tuh mungkin punya banyak duit sekarang. Jangan mau nurut. Awas hati-hati lo anda mereka ini jadi Banser kamu ajak mereka tadi itu untuk dengan membela ulama, membela habaib, tapi anda gunakan untuk jaga gereja. Kita (bukan-red) gak setuju dengan orang yang jaga gereja, tapi bukan anda, mau tukaran dengan sesame umat islam ini apa maksudnya..” ( https://www.youtube.com/watch?v=x_xre-UU28A)

Alwi bin Abdurrahman Assegaf Depok Larang Anak masuk Banser Ansor

Seorang Ba’alwi dari depok, Bernama Alwi Assegaf larang umat Islam masuk Banser dan Ansor. Warta Ekonomi, Jakarta, pada 22 Maret 2022 mereportase pernyataan seorang Ba’alwi Bernama Alwi bin Abdurrahman Assegaf. Dalam ceramahnya Alwi menghimbau umat agar tidak memasukan anaknya ke Banser atau Ansor.

“Melalui unggahan video di kanal youtube NU Garis Lurus. Habib Alwi pun menyeru kepada orang tua agar anak-anaknya tidak mengikuti kedua organisasi di atas. “Jangan ada anak ibu yang ikut Ansor apalagi Banser. Ingetin nih sampai mampus tidak ada kata Banser,” ucap Habib Alwi. Usut punya usut, alasan Habib Alwi melarang umat muslim mengikuti Anshor maupun Banser. Karena kedua organisasi tersebut terdapat ajaran Islam Nusantara. “Dan jangan ada anak ibu ngikutin ajaran Islam Nusantara. Saya yang bertanggungjawab atas perbuatan laknat mereka,” papar Habib Alwi. Ia kemudian menegaskan bahwa ajaran Islam Nusantara tidak selaras dengan Islam yang dibawakan Nabi Muhammad SAW. “Jangan ada paham Islam Nusantara dalam segi kepercayaan kita kepada Allah taala dan Rasulnya. Jangan ada Islam Nusantara dalam ibadah kita sehari-sehari. Apapun bentuknya, itu laknat Allah taala,” tegas Habib Alwi” ( https://wartaekonomi.co.id/read401534/heboh-habib-alwi-larang-umat-masuk-ansor-banser-jangan-ada-islam-nusantara-dalam-ibadah)

Alwi bin Abdurrahman Assegaf Larang Shalawat Badar di Lantunkan

Media Terkini.id, pada 19 Maret 2022, mereportase pernyataan seorang Ba’alwi Bernama Alwi bin Abdurrahman Assegaf yang melarang shalawat Badar.

“Pernyataan tersebut disampaikan dalam salah satu kajian ceramahnya, kemudian video itu diunggah oleh channel youtube NU Garis Lurus, dengan judul ‘Jangan Ada yang Ikut Ansor dan Banser’, sebagaimana dilansir pada Sabtu, 19 Maret 2022. “Sholatullah salamullah, bi ahlil badri ya Allah,” ujar Habib Alwi mencontohkan sholawat yang menurutnya terlarang. “Jangan ada anak ibu maupun Majelis Ta’lim ibu baca sholawat-sholawat itu!,” ujar Habib Alwi melanjutkan… “Itu sholawat oknum! paham?!,” ujar Habib Alwi melanjutkan. “Laknat Allah ta’ala buat mereka, Bukan karena sholawatnya!,” ujar Habib Alwi melanjutkan. “Sebab itu dimanfaatkan oleh oknum yang memusuhi agama, selesai!,” ujar Habib Alwi melanjutkan” (https://makassar.terkini.id/viral-habib-ini-larang-bacaan-sholawat-itu-dipakai-memusuhi-agama-laknat-allah-untuk-mereka/ )

Ahmad bin Zen Al-Kaf Menuduh K.H. Said Aqil Siraj Menerima Uang dari Syi’ah

Media Fakta Kini milik FPI pada 11 Mei 2020 mereportase kisah tentang seorang Ba’alwi yang Bernama Ahmad bin Zen Al-kaf. Ia seorang Ba’alwi yang masuk dalam jajaran A’wan PWNU Jatim. Tetapi sikapnya lebih mencerminkan seorang FPI. Dengan bangga media FPI memberitakan bahwa Ahmad bin Zen telah menyidang K.H. Said Aqil Siraj (ketua Umum PBNU) yang dianggap telah menyelewengkan ajaran Aswaja (Ahlisunnah Waljamaah).

“Saat SAS menyelewengkan Ajaran ASWAJA dg mengatas-namakan NU, mk HAZ selaku salah satu Mustasyar PWNU Jatim berdiri tegak menegur & menyidang SAS di Surabaya, tanpa rasa takut diberhentikan dari NU atau dijauhi warga NU yg fanatik buta thd SAS. Saat IB-HRS memimpin Umat Islam melawan PARA PENISTA AGAMA & PARA PELINDUNGNYA di Indonesia, HAZ berdiri paling depan mendukung & membela IB-HRS habis-habisan. Saat Umroh, HAZ tdk lupa mampir silaturahim ke Kediaman IB-HRS di Kota Suci Mekkah, Bercengkerama & Diskusi serta memberi Doa & Nasihat” (https://www.faktakini.info/2020/05/video-ketika-habib-ahmad-bin-zein.html#gsc.tab=0).

Dalam reportase itu, Media Fakta Kini menampilkan video ketika Ahmad bin Zen sambutan di hadapan K. H. Said Aqil Siraj. Transkip Sambutannya sebagai berikut:

“Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh, nama saya Ahmad bin Zen Al-Kaf, saya ketua Yayasan Al-Bayyinat bidang organisasi, dan saya a’wan syuriah NU PWNU Jatim, kami yakin bahwa antum bukan pengikut syi’ah, tidak berakidah syi’ah, namun catatan di tempat kami, istilahnya di computer kami, penuh nama-nama antum, laporan-laporan mengenai antum, yang isinya komentar-komentar antum yang sifatnya membela syiah, di mana komentar-komentar tersebut sangat merugikan ahlussunnah khususnya kaum nahdliyyin, sehingga banyak bisa dikatakan 95% pengikut syi’ah adalah kaum nahdliyyin yang digerogoti oleh antek-antek syiah, perlu ana pereknalkan bahwa yang hadir di sini adalah pejuang-pejuang ahlussunnah dari nahdliyyin semua dari Bangil dari Jember dari mana-mana dari Surabaya, dan sekitarnya dari Jawa Timur, na’am, mereka merasa sakit hati kepada syi’ah, dan mereka sudah berhadapan tinggal bunuh-bunuhan saja, dan mereka lebih sakit hati lagi kepada pengurus PBNU, di mana mereka sudah berhadapan akan bunuh-bunuhan pimpinan kita justru rangkulan dengan orang-orang syi’ah, kami tahu di belakang itu adalah fulus, kami tahu dan kami berani bersumpah karena kami ada orang kami di dalam syi’ah kami mempunyai data untuk antum ketahui, antum sebagai orang …(tidak jelas, lalu terdengar Kiai Said bertanya) “saya dapat uang?”…(Ahmad Al-kaf melanjutkan) “kami tidak mau membuka rahasia seseorang…” (https://www.faktakini.info/2020/05/video-ketika-habib-ahmad-bin-zein.html#gsc.tab=0).

Hanif Alatas Menentang Islam Nusantara Nahdlatul Ulama

“…Saudara-saudara, kemarin Bapak KH. Ma’ruf Amin—mudah-mudahan selalu dapat hidayah dari Allah , Amin—Saudara, beliau di depan kader-kader Nasdem. Beliau mengatakan apa? ‘Kalau saya naik jadi wakil presiden, maka sebagai wakil presiden, saya akan terapkan Islam Nusantara’. Saya mau tanya, kira-kira umat Islam setuju atau tidak? Setuju atau tidak? Ini konsepnya saja belum matang, masih jadi bajakan, masih diperdebatkan, masih rawan dicuri sana dicuri sini . Eh, mau diterapkan secara undang-undang, mau diterapkan secara kenegaraan . Saya mau tanya, kira-kira setuju atau tidak? Umat Islam setuju atau tidak? Kalau betul-betul diterapkan, umat Islam protes atau tidak? Protes atau tidak? Saudara, demi Allah! Demi Allah! Kami umat Islam, kami pecinta habaib, kami pecinta ulama, demi Allah, tidak rela kalau sampai Islam di Indonesia dirusak oleh mereka, Saudara! Makanya demi Allah kami tidak akan rela, Saudara. Apapun yang ada pada kami, kami akan pertaruhkan, Saudara. Kami enggak peduli, walaupun dicaci, dimaki, dihina, difitnah, dipenjara, bahkan dibunuh sekalipun, Islam Ahlussunnah wal Jamaah harus tetap tegak di bumi NKRI” ( https://www.youtube.com/watch?v=vJJ-Oq1-OoI).

Setelah nasabnya batal, orang yang berpidato berapi-api itu sekarang seperti ayam sayur, keliling-keliling kiai NU meminta dukungan agar nasabnya tetap diakui, tapi rupanya usahanya sia-sia, kiai kiai NU sudah tidak lagi percaya nasab Ba’alwi.

Zen Umar Smith mengundurkan diri dari PBNU ketika NU membutuhkan

Detiknews pada Rabu 06 Maret 2019 mereportase surat pengunduran Zen Umar Smith sebagai Mustasyar PBNU. Anehnya surat itu ditujukan kepada pengurus rabitah Alawiyah tingkat DPP, DPW dan DPC, seakan-akan sebelumnya Zen Umar Smith diminta oleh mereka untuk mengundurkan diri dari PBNU. Pengunduran diri ini menjelang hari pencoblosan pemilu 2019 yang akan dilaksanakan pada 17 April 2019. Pengunduran diri ini menurut beberapa kalangan sebagai pesan tidak tertulis bahwa Zen Umar Smith dan Rabitah Alawiyah tidak mendukung calon presiden yang diusung PBNU Jokowi-Maruf Amin.

“Maklumat Pengunduran Diri Sebagai Mustasyar PBNU. Kepada seluruh pengurus DPP, DPW dan DPC Rabithah Alawiyah di seluruh Indonesia. Sebagaimana diketahui bahwa atas nama pribadi saya menjadi salah satu Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk periode kepengurusan saat ini dan hal tersebut merupakan kehormatan yang harus dijaga. Menyikapi perkembangan dan langkah-langkah PBNU selama kepengurusan ini, saya berpendapat ada hal-hal yang tidak sejalan dengan aspirasi umat Islam. Lebih-lebih seringnya pengurus PBNU mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang kurang bijak, sehingga menimbulkan reaksi dan kegaduhan di kalangan umat Islam serta pihak-pihak lain, sehingga dapat merugikan wibawa organisasi. Sebagai Mustasyar, selama ini saya juga tidak dapat berfungsi dengan benar dalam memberikan saran dan nasihat kepada organisasi tersebut. Karena itu dengan pertimbangan yang panjang saya telah mengajukan surat pengunduran diri sebagai Mustasyar PBNU terhitung tanggal 28 Jumadil Akhir 1440 H (5 Maret 2019). Meskipun demikian, saya sebagai pribadi maupun sebagai Ketua Umum Rabithah Alawiyah, akan tetap menjalin silaturahmi dengan para Kyai, Masyaikh, Ulama, para pemimpin pondok pesantren di lingkungan NU, lembaga-lembaga dakwah, maupun pimpinan-pimpinan ormas Islam sehingga terjalin saling pengertian yang baik. Semoga kita selalu diberikan petunjuk oleh Allah SWT, dan diberi kemampuan untuk mengatakan yang haw walaupun hal itu pahit. Wassalam, H Zen Umar bin Smith ( https://news.detik.com/berita/d-4456815/ketum-rabithah-awaliyah-mundur-dari-mustasyar-pbnu-ada-apa).

Surat pengunduran ini tidak bisa dilepaskan dari politik electoral karena disampaikan beberapa hari sebelum pencoblosan. Bukan rahasia lagi pada pemilu 2019 ini, walaupun secara resmi RA menyatakan netral, tetapi mempunyai kecendrungan memilih calon presiden dan wapres yang tidak didukung NU. Hal itu misalnya dapat dibaca ketika ada beberapa orang Ba’alwi di Bondowoso yang deklarasi mendukung Jokowi-Ma’ruf atas nama pribadi, RA cabang Bondowoso langsung membuat surat bahwa beberapa orang Ba’alwi itu tidak mewakili RA. Padahal seharusnya, surat itu tidak perlu dikeluarkan karena yang deklarasi itu tidak mengatasnamakan RA. Hal itu dilakukan semata karena diduga RA Bondowoso sudah mendukung capres lainnya ( (https://www.ngopibareng.id/read/rabithah-alawiyah-bondowoso-pecah-karena-deklarasi-dukung-jokowi-520121 ).

Pengunduran Zen Umar Smith dari mustasar PBNU beberapa hari sebelum hari pencoblosan dengan narasi yang merugikan PBNU seperti ucapan Zen Umar Smith “…langkah-langkah PBNU selama kepengurusan ini, saya berpendapat ada hal-hal yang tidak sejalan dengan aspirasi umat Islam. Lebih-lebih seringnya pengurus PBNU mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang kurang bijak, sehingga menimbulkan reaksi dan kegaduhan di kalangan umat Islam serta pihak-pihak lain…” sangat bisa dimaknai bahwa Zen Umar Smith sedang mengajak pendukungnya untuk tidak mengikuti seruan PBNU yang sedang memperjuangkan K.H. Maruf Amin sebagai Wakil Presiden Indonesia. Ini adalah suatu penggembosan.

Zen Umar Smith sedang mempertontonkan watak dan sikap Ba’alwi yang asli terhadap NU: jika ada kesempatan menggembosi NU, maka akan dilakukan.

Lutfi bin Yahya membuat Organisasi tarekat Tandingan NU

Lutfi bin Yahya menjabat sebagai ketua Jamiyyah Ahlittariqah al-Mu’tabarah al-Nahdliyyah (Jatman) dari tahun 2000-2023. Jatman adalah organisasi tarekat badan otonom di bawah PBNU. Tetapi ketika masa jabatannya habis dan PBNU meminta Lutfi untuk mengembalikan Jatman kepada PBNU, Lutfi melawan walaupun akhirnya menyerah. Tetapi, tidak sampai di situ, Lutfi kemudian membentuk organisasi tarekat sendiri yang ia berinama Jatma Aswaja. Lutfi pula telah mempertontonkan watak dan sikap Ba’alwi asli kepada NU: jika ada kesempatan menggembosi Nu maka akan dilakukan.

Dari contoh-contoh di atas, hendaknya kepada para pimpinan NU tidak lagi menjadikan kaum Ba’alwi sebagai pimpinan NU disetiap tingkatan karena hanya akan merugikan NU itu sendiri. Kesetiaan mereka setipis kulit bawang, dan watak mereka tidak bisa dianggap aman.

Penulis: Imaduddin Utsman Al-Bantani