Kata kurban ( قربا ) menjadi kata predikat dari kata kerja ( قرب ) adalah dekat. Hingga kita panjangkan arti kurban secara istilah dari kitab al-Ta’rifat Imam al-Jurjani, adalah berikut ini...
Merupakan salah satu karya tulis yang tertuang dalam bentuk natsar (prosa) di bidang ilmu fiqih dengan dilengkapi referensi dari berbagai kitab-kitab klasik para ulama.
Pokok bahasan Ilmu Manthiq itu ada 2 bagian, pertama al-tashowwur dan yang kedua al-tashdiq. Al-tashowur itu “idroku al nisbati kalamiyatan aw khobariyatan aw insyaiyatan“ dan juga itu diartikan sebagai pengertian memahami objek (materi) sebelum diteliti.
Terkait dengan praktik kemusyrikan serta asumsi bahwa wafaq atau rajah dianggap sebagai alat untuk menggelincirkan manusia ke praktik kemusyrikan. Jawaban kita tegas, bukan.
Santri di pesantren salafiyah ini tidak melulu secara normatif seperti yang terdeskripsian di atas, ada beberapa santri salafiyah yang tidak melulu ngaji (nyoret kitab kuning) semata, tapi ada konsentrasi pada penguatan ilmu batin (kedigdayaan, kesaktian dan asihan)
Ulama besar asal Lebak ini telah mewariskan kepada kita satu kitab risalah yang berisi tentang soal-soal keimanan, uluhiyat, dan kalimat tauhid. Ditulis menggunakan huruf Arab tapi dengan narasi Bahasa Sunda, dan disusun secara tanya jawab (dialektik).
Ayat-ayat suci Al-Qur'an kita bacakan, istighfar dan tahlil kita ucapkan, membaca sholawat nariyah kita sanjungkan, dan air mata pun kita teteskan. Dengan khusyu' dan takhollush hati, kita menyalakannya dengan khouf dan roja' kepada Tuhan yang maha pengasih dan penyayang, agar bumi ini secepatnya dihilangkan dari wabah pandemi dan endemik virus Corona.
Dari musibah membuka cakrawala baru dalam dunia kedokteran. Klenik dan takhayul terkikis bahkan ditinggalkan. Babak baru rasionalitas memahami fenomena alam dan tak luput pula cara beragama.
Satu dari sekian ribu ulama Nusantara yang memilki karakteristik genuine tersebut adalah almarhum al-Arif Billah al-Bahru al-Fahhamah Syaikh Muhammad Syanwani bin Abdul Aziz Sampang Tirtayasa (KH. Syanwani) atau kita mengenalnya dengan sebutan Yai San, atau Abah Mamat. Sosok ulama besar ini sepanjang hidupnya telah mencurahkan jiwa raganya untuk kemuliaan Islam, untuk ilmu, untuk bangsa dan negara.
Ragas ini disebut salah satu Kampung Tua yang ada di wilayah Banten. Sebab sejak abad 16 M, kampung ini ternyata didapati banyak jejak-jejak sejarah di awal-awal penyebaran Islam di Banten, dan menunjukan kampung ini sudah dihuni oleh beberapa orang. Fakta kuburan tua Nyi Mas Panca Inten di sebelah selatan kampung Ragas memberi petunjuk ke kita, bahwa ternyata Ragas sudah ada penghuni sejak abad 16 silam.