Peradaban kita adalah peradaban modern, sudah barang tentu bersikap agama tetap berpegang teguh pada aqidah yang lurus, syari'at yang benar, berakhlak yang baik. Menjadi muslim tidaklah dipersempit oleh khilafiyahnya soal-soal furu'iyah, tetapi juga kepatuhan atas hukum sesuatu karena didasari fatwa yang lebih mu'tamad atau yang lebih shoheh.
Menurut peneliti Alexander Pelletier, NU unik karena lihai dalam meramu perbedaan termasuk perbedaan di internal sendiri sehingga memunculkan satu kebijakan yang moderat dan akhirnya diterima semua pihak.
Penerjemahan Islam dalam Fikih Islam Nusantara didalam buku ini merupakan antitesis dari pelbagai pendekatan yang selama ini bermunculan namun tidak menjawab permasalahan secara rinci, tidak otoritatif, dan bahkan berasal dari kalangan radikal dan teroris.
Tokoh besar sastra kita ini, tipikal sastrawan jenius yang dimiliki bangsa ini. Adalah penghargaan, penghormatan, serta pengakuan menjadi sangat wajar atas keistiqomahannya dalam mengembangkan dunia sastra kita
Kemerdekaan yang ke-76 tentu kita melihatnya tidak parsial adalah terbebaskannya dari ketertindasan dan belenggu kekejaman sistem penjajahan. Patut disyukuri, hari ini kita menjadi manusia merdeka.
Tak ada dalil satupun yang menguatkan semua tuduhan terhadap Kiai Said Aqil Siraj, terkecuali tuduhan itu adalah keji dan kasar karena bersumber pada kebenciaanya pada NU, sebab NU salah satu benteng ideologi NKRI, dan tameng paham keagamaan yang kokoh.
Apa yang dibanggakan dalam hidup jika dalam kehidupan tanpa ada harmoni sesama manusia. Kebenaran disampaikan dari hati dan akan tersampaikan hingga masuk hati. Namun keyakinan punya jalannya sendiri kepada Tuhannya.
Gus Dur, adalah murid SMEP, santri Krapyak, santri Tambak Beras, santri Tegal Rejo, santri sekaligus keluarga ndalem Tebuireng, mahasiswa al-Azhar Mesir, mahasiswa Universitas Baghdad. Gus Dur yang mahir berbahasa Asing lebih dari 3. Bahkan saking jeniusnya Gus Dur mampu hafal 2000 nomor pengguna telpon. Syair-syair Arab Baduwi, hafal diluar kepala selain Alfiah Ibnu Malik dan matan Zubad Ibnu Ruslan.