Analisis Kunjungan Umar bin Hafidz Dalam Upaya Membentuk Persepsi Publik Sebagai Sosok yang Dianggap Mulia

Posted by: Admin 16-Okt-2026 Tidak ada komentar

Oleh: Rifky Zulkarnaen J. Baswara

Daftar Kunjungan Habib Umar bin Hafidz

Habib Umar bin Hafidz berkunjung ke Muhammadiyah tgl 12 Oktober 2026 dan pada tanggal yang sama malam harinya berkunjung ke PBNU. Umar bin Hafidz bertemu Kapolri tgl 13 Oktober 2026, Umar bin Hafidz bertemu juga Ketua MPR RI tgl 13 Oktober 2026.

Dari data-data yang ada, kunjungan-kunjungan itu merupakan upaya Klan Habib Baalwi membentuk persepsi publik bahwa Habib Umar bin Hafidz adalah sosok yang dianggap mulia dan penting di mata tokoh-tokoh penting bangsa ini oleh karenanya ia disambut dan diundang para elite bangsa. Padahal bukan diundang melainkan ia yang datang bertamu.

Kunjungan Habib Umar bin Hafidz ke NU tidak penulis bahas. Penulis akan mengurai analisis penulis terhadap tiga kunjungan Habib Umar bin Hafidz yaitu ke Muhammadiyah, Kapolri dan Ketua MPR RI.

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke Muhammadiyah Tanggal 12 Oktober 2026

Persepsi yang dibangun oleh Klan Habib Baalwi dan budak-budaknya atas kunjungan Habib Umar bin Hafidz ke Muhammadiyah adalah Muhammadiyah sebagai pihak yang mengundang Habib Umar bin Hafidz. Hal itu tidak mungkin karena Muhammadiyah sama sekali tidak memiliki kebutuhan kepada Habib Umar bin Hafidz. Muhammadiyah punya kekuatan finansial yang raksasa, Muhammadiyah punya infrastruktur sosial dan amal usaha yang raksasa, Muhammadiyah punya formulasi ilmu dan manhajnya sendiri sehingga tidak butuh menimba ilmu dari Habib Umar bin Hafidz, dan Muhammadiyah punya struktur dan infrastruktur jaringan internasionalnya sendiri. Dianalisis dari segi apapun, Muhammadiyah sama sekali tidak memiliki kebutuhan kepada Habib Umar bin Hafidz. Maka yang benar adalah Habib Umar bin Hafidz mengajukan permohonan berkunjung ke Muhammadiyah dan permohonan itu diterima oleh Muhammadiyah.

Muhammadiyah menerima kunjungan dari berbagai pihak merupakan peristiwa yang biasa terjadi bahkan dari Iran dan nonmuslim pun diterima. Silakan googling data-data Muhammadiyah menerima kunjungan dari berbagai pihak. Jadi kunjungan Umar bin Hafidz bukan sesuatu yang spesial bagi Muhammadiyah. Ditimbang dari kekuatan pada segala sisi dan daya tawar kedua belah pihak, justru Umar bin Hafidzlah yang beruntung kunjungannya diterima oleh Muhammadiyah.

Pada kesempatan itu, Klan Habib Baalwi gagal mengeksploitasi kebesaran Muhammadiyah untuk mereka manfaatkan dalam rangka menaikkan status dan citra Klan Habib Baalwi. Setiap tokoh penting bangsa yang mencium tangan Habib Umar bin Hafidz oleh tim branding Klan Habib Baalwi selalu dipublikasikan dalam posisi menunduk kepada Habib Umar bin Hafidz dan mencium tangannya untuk menciptakan persepsi bahwa tokoh-tokoh bangsa Indonesia mengagungkan dan tunduk kepada Habib Umar bin Hafidz sebagai perwakilan dari Klan Habib Baalwi. Upaya itu merupakan upaya menundukkan mentalitas bangsa Indonesia supaya tunduk kepada Klan Habib Baalwi. Hal itu tidak berhasil ke Muhammadiyah. Dr. Anwar Abbas sebagai Perwakilan Muhammadiyah tidak mencium tangan Habib Umar bin Hafidz dan sama sekali tidak memberi gestur bahwa Habib Umar bin Hafidz adalah sosok yang spesial, orang ini orang biasa-biasa saja. Lihat https://youtube.com/shorts/c4LpX3mrDpw?si=LWGr9AbVUCzyPPGM .

Ada suara-suara yang mengatakan bahwa Muhammadiyah bisa saja terpengaruh. Apakah Muhammadiyah akan terpengaruh oleh Habib Umar bin Hafidz dan secara umum oleh Klan Habib Baalwi? 99% tidak akan terpengaruh. Mengapa? Karena Muhammadiyah punya latar belakang berdiri yang solid dan sejarah panjang mempertahankan dirinya dari TBC dan dari berbagai serangan kepada dirinya sekaligus sejarah panjang memberantas TBC yang kini kita ketahui bersumber dari Klan Habib Baalwi.

Berikut ini beberapa milestone perjalanan sejarah Muhammadiyah yang relevan:

KH. Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah dan peletak pondasi teologi atau ideologi Muhammadiiyah, beliau pernah diancam akan dibunuh oleh orang Banyuwangi pada tahun 1919, bukannya lari justru KH. Ahmad Dahlan mendatangi kandangnya yaitu kota Banyuwangi. https://muhammadiyah.or.id/2021/03/menyambung-silaturahim-bentuk-kekuatan-dakwah-kiai-ahmad-dahlan/

Banyak orang tidak tahu bahwa Muhammadiyah pernah ‘bertikai’ dengan Habib dari Pekalongan yang menuduh Muhammadiyah sebagai Wahabi. Peristiwa itu terjadi tanggal 13 dan 14 November 1923. Lihat https://hidayatullah.com/kajian/sejarah/2022/08/04/234640/jejak-kisah-muhammadiyah-dituduh-berhaluan-wahabi.html Inilah catatan sejarah yang nampaknya fitnah dari Habib Pekalongan inilah yang merupakan awal mula Muhammadiyah terus-menerus dicap dan tersebar luas sebagai sebagai Wahabi. Berdasar catatan sejarah ini, Klan Habib Baalwilah yang menuduh dan menyebarluaskan Muhammadiyah sebagai Wahabi. Catatan sejarah ini memperkuat cerita Bang Nasab yang memperoleh cerita dari KH. Said Aqil Siradj bahwa Klan Habib Baalwilah yang menyebarkan isu bahwa Muhammadiyah adalah Wahabi. Lihat “SEPERTI PENJAJAH Habib Memecah Belah Persatuan Umat Islam di Indonesia” –https://youtu.be/2rON5gnt6Ak?si=obtPs7UR4uQA1i-8&t=66 .

KH. Hasan Basri, Ketua MUI 1985-2000, merupakan kader Muhammadiyah. KH. Hasan Basri pernah menyulut polemik tentang nasab Klan Habib Baalwi pada sekitar tahun 1983 atau 1993 yang membuat jembut Klan Habib Baalwi kebakaran. https://ibtimes.id/k-h-hasan-basri-kader-muhammadiyah-dari-parlemen-hingga-ketua-mui/ https://bangkitmedia.com/gus-dur-dan-nu-lah-pembela-habaib-yang-sebenarnya/

Pada tahun 2000-an Muhammadiyah memiliki pengalaman amat pahit yaitu kecolongan terinfiltrasi atau tersusupi ideologi Transnasional dari tingkat akar rumputnya sampai tingkat Pimpinan Pusatnya. PP Muhammadiyah mensikapinya dengan mengeluarkan aturan internal seperti Surat Keputusan Pimpinan Pusat (SK PP) Muhammadiyah Nomor 149/Kep/I.0/B/2006 tanggal 1 Desember 2006 tentang Konsolidasi Organisasi dan Amal Usaha Muhammadiyah. SK ini diterbitkan untuk melindungi organisasi, kader, serta seluruh amal usaha Muhammadiyah dari pengaruh, misi, infiltrasi, dan kepentingan partai politik khususnya PKS maupun gerakan Islam transnasional/garis keras seperti Wahabi, HTI, dan Ikhwanul Muslimin. Selengkapnya silakan pelajari buku Ilusi Negara Islam karya Gus Dur, Buya Syafii Maarif, dkk. Kebijakan ini diperkuat lewat Forum Tanwir Muhammadiyah di Yogyakarta (2007) dengan tema peneguhan ideologi dan pembersihan agenda organisasi dari kepentingan luar. Muhammadiyah terus membentengi kader melalui revitalisasi sistem pengkaderan seperti Baitul Arqam dan penegasan konsep Islam Berkemajuan. https://www.facebook.com/pageKataKita/posts/penyusupan-di-muhammadiyah-gerakan-garis-keras-transnasional-dan-kaki-tangannya-/2286980114726694/ , https://www.neliti.com/publications/515238/formulasi-fiqh-muhammadiyah-dalam-paradigma-islam-berkemajuan

Kita ketahui bersama sepanjang tahun 2000an ke atas hingga sebelum polemik nasab yang dimotori KH. Imaduddin Utsman Al Bantani, Muhammadiyah head to head dengan NU pada beberapa hal di mana Muhammadiyah diposisikan sebagai Wahabi atau Salafi Wahabi. Apakah Muhammadiyah tumbang? Fakta membuktikan Muhammadiyah tidak tumbang dan kini justru di akar rumput terjadi konvergensi antara warga Muhammadiyah dengan warga NU dan pada skala elite Muhammadiyah dan NU saling menghormati di jalan masing-masing. NU menjadi ormas Islam terbesar di dunia sementarra Muhammadiyah menjadi ormas Islam terkaya sedunia dengan infrastruktur sosial dan amal usaha yang sangat luas baik di nasional maupun internasional di sekitar 30 negara. Dalam kaitannya dengan Klan Habib Baalwi yang diwakili Habib Umar bin Hafidz dari Darul Mustofa Tarim Yaman yang mengemis dana sponsor dari Muhammadiyah, dengan kekuatan raksasa Muhammadiyah, Muhammadiyah sama sekali tidak membutuhkan bantuan dari Darul Mustofa Tarim dalam rangka membantu Palestina di berbagai bidang. Muhammadiyah sudah, sedang dan selalu membantu Rakyat Palestina ketika Klan Habib Baalwi (atau Darul Mustofa Habib Umar bin Hafidz) berpikir saja belum. Memangnya Darul Mustofa Habib Umar bin Hafidz hal apa untuk ditawarkan ke Muhammadiyah? Gak punya apa-apa. Muhammadiyah sudah punya powernya sendiri dan mandiri. Tahun depan ketika Habib Umar bin Hafidz datang lagi, insyaAllah kita akan bandingkan kekuatan Muhammadiyah versus Darul Mustofa Tarim Habib Umar bin Hafidz.

Tahun 2020, Buya Syafii Maarif, Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah mengeluarkan statement ke ruang publik yang head to head menyerang frontal Klan Habib Baalwi dengan mengasosiasikannya sebagai perbudakan spiritual. Beliau menyatakan: “Bagi saya mendewa-dewakan mereka yang mengaku keturunan Nabi adalah bentuk perbudakan spiritual, Bung Karno puluhan tahun yang lalu sudah mengeritik keras fenomena yang tidak sehat ini Gelar habib, dan 1.001 gelar lain yg mengaku keturunan nabi, atau keturunan raja, hulubalang/keturunan bajak laut, perompak lanun yg menjadi raja, sultan, dianggap suci oleh sebagian orang akan runtuh berkeping berhadapan dgn penegasan ayat Al-Qur’an.” Lihat “Buya Syafii: Mendewakan Pengaku Keturunan Nabi Bentuk Perbudakan Spiritual” https://news.detik.com/berita-jawa-tengah/d-5265840/buya-syafii-mendewakan-pengaku-keturunan-nabi-bentuk-perbudakan-spiritual.

Tahun 2025, Muhammadiyah menegaskan akidah Muhammadiyah berpijak pada posisi Ahl al-Haq wa al-Sunnah atau yang dikenal pula dengan istilah Ahl al-Sunnah wal-jamaah dan Manhaj Akidah Muhammadiyah. https://muhammadiyah.or.id/2025/09/akidah-muhammadiyah-adalah-ahl-al-haq-wa-al-sunnah/

Dari milestone di atas, Muhammadiyah telah berpengalaman menghadapi berbagai serangan kepadanya sekeras dan setajam apapun itu, berpengalamann menghadapi upaya-upaya penyusupan ke dalam organisasinya, dan berpengalaman berhadapan dengan berbagai ideologi transnasional dari berbagai negara dan kelompok seperti Klan Habib Baalwi yang merupakan sumber TBC di mana malah justru TBC itulah yang diperangi Muhammadiyah—jadi posisinya secara keilmuan Muhammadiyah memerangi Klan Habib Baalwi; maka penulis menyimpulkan Muhammadiyah memiliki daya tahan, daya tarung dan imunitas yang sangat kuat dan oleh karenanya tidak akan terpengaruh dengan Klan Habib Baalwi justru jika Klan Habib Baalwi berani menyerang Muhammadiyah baik langsung atau tidak langsung baik terang-terangan atau terselubung, Muhammadiyahlah yang akan membasmi Klan Habib Baalwi sebagaimana Muhammadiyah membuang dan memerangi infiltrasi ideologi Transnasional sebagaimana data di atas. Pada situasi saat ini pasca Polemik Nasab dan terungkapnya Kladestin Baalwi, jika itu terjadi, warga NU (bukan struktural NU) akan mendukung Muhammadiyah di mana ormas NU (struktural dan elitenya) tidak akan mampu berbuat apa-apa untuk membela Klan Habib Baalwi karena dukungan warga NU memihak kepada Muhammadiyah—tanpa dukungan massa dari warga NU, ormas NU tidak memiliki power. Jika pun NU akan berupaya bernegosiasi dan berdiplomasi kepada elite Muhammadiyah untuk membela Klan Habib Baalwi, itu tidak akan berhasil. Mengapa? Lihat data di atas di mana Muhammadiyah pernah head to head dengan NU dan lihatlah bagaimana ketegasan Muhammadiyah tanpa tedeng aling-aling membersihkan dirinya dari berbagai anasir yang bukan Muhammadiyah sekalipun itu partai politik dan jaringan organisasi internasional garis keras. Bagi Muhammadiyah, kepentingan Muhammadiyah di atas segalanya dan tidak ada kompromi untuk itu dan tidak ada timbangan ketakutan untuk berkonfrontasi dengan pihak mana pun.

Habib Umar bin Hafidz Bertemu Kapolri dan Ketua MPR RI Pada Tanggal 13 Oktober 2026

Tercatat Umar bin Hafidz bertemu Kapolri tgl 13 Oktober 2026 dan juga bertemu Ketua MPR RI pada tgl yang sama yaitu 13 Oktober 2026. Ditilik dari latar belakang kepentingan, Kapolri dan Ketua MPR RI sebagai pejabat pemerintah tidak memiliki urgensi bertemu dengan Habib Umar bin Hafidz. Sebagai pejabat pemerintah, untuk apa Kapolri dan Ketua MPR RI bertemu Habib Umar bin Hafidz? Apa pentingnya bertemu Habib Umar bin Hafidz? Apa yang hendak diperoleh Kapolri dan Ketua MPR RI dengan bertemu Habib Umar bin Hafidz? Sama sekali tidak ada pentingnya Habib Umar bin Hafidz bagi Kapolri dan Ketua MPR RI. Sehingga pertemuan dengan Kapolri dan Ketua MPR RI yang terjadi pada satu hari yang sama, menandakan keterburu-buruan dan pemaksaan waktu karena sempitnya waktu yang dimiliki oleh Kapolri dan Ketua MPR RI. Dan pertemuan dengan Kapolri dan Ketua MPR RI hanya untuk kepentingan Klan Habib Baalwi yang diwakili oleh Habib Umar bin Hafidz.

Dilihat dari dokumentasi foto dan video pertemuan dengan Kapolri dan Ketua MPR RI, Kapolri dan Ketua MPR RI nampaknya terpaksa menerima kunjungan Habib Umar bin Hafidz. Nampaknya pertemuan itu pertemuan yang disempat-sempatkan saja bukan pertemuan yang sengaja diinginkan. Nampaknya itu bisa terjadi karena ada sosok dari Klan Habib Baalwi yang mengemis-ngemis waktu kepada Ketua MPR RI dan Kapolri. Tujuannya adalah yang penting Habib Umar bin Hafidz terdokumentasikan bersanding dengan Ketua MPR RI dan Kapolri—meski sebentar yang penting terdokumentasi sehingga bisa dimanfaatkan sebagai alat publisitas dan branding.

Silakan cermati baik-baik dan analisislah video Kapolri dengan Habib Umar bin Hafidz. Pada pertemuan dengan Kapolri frame adegan Habib Umar bin Hafidz turun dari mobil dan Kapolri diposisikan sebagai pihak yang menunggu lalu mencium tangan Habib Umar bin Hafidz—ini menciptakan kesan dan pesan betapa penting dan mulianya Habib Umar bin Hafidz dan Kapolri diposisikan sebagai subordinat. Frame adegan itu berhasil didokumentasikan namun sayangnya perhatikanlah suasana di sekeliling pada adegan itu, suasananya sepi dan ala kadarnya. Dan ternyata acaranya di masjid, berupa ceramah, di mana jamaah yang hadir sedikit dan jamaah yang hadir itu berpenampilan khas budak-budak Klan Habib Baalwi. Ini menandakan acara itu acara sisipan yang dipaksakan pada rangkaian jadwal Kapolri, bagi Klan Habib Baalwi adalah terserah acaranya bagaimana yang penting sosok Kapolri hadir meski tidak berperan signifikan, dan dilihat dari jamaah yang hadir, kehadiran jamaah tidaklah natural organik sehingga dapat dibaca adanya mobilisasi massa yang disengaja dari pihak Klan Habib Baalwi untuk keberhasilan terselenggaranya acara. Dengan kata lain, andai tidak ada mobilisasi massa, maka tidak ada jamaah yang hadir dan acara akan menjadi janggal dan batal sebab tidak ada yang diceramahi jika tidak ada yang hadir.

Lihatlah foto sowan Habib Umar bin Hafidz ke Ketua MPR RI. Dokumentasi yang terpublikasi hanya ada satu, tidak ada video yang dipublikasikan, tidak ada foto atau video di mana Ketua MPR RI menunduk dan mencium tangan Habib Umar bin Hafidz sebagaimana video pertemuan dengan sosok-sosok lain yang bermuatan eksploitasi adegan menunduk dan cium tangan. Pada foto itu, justru mimik muka Ketua MPR RI menunjukkan keengganan, keheranan, dan menguat-nguatkan diri untuk duduk di situ sampai waktu usai. Pada foto itu, terekam pula pelecehan terhadap Ketua MPR RI oleh rombongan Habib Umar bin Hafidz di mana anaknya duduk di atas kursi dengan menaikkan kakinya yang merupakan gestur yang memberi pesan menganggap remeh Ketua MPR RI dan Ketua MPR RI tidak layak dihormati bahkan pada pertemuan formal sekalipun.