
Peneliti dan sejarawan Abdullah bin Saleh bin Ali Al Abu Tal’ah Al-Sharfi, seorang ulama dari Dammaj di kota Sa’dah di Yaman utara, menurut Kiai Ja’far, berkata: “Mereka yang memberi mereka silsilah palsu ini dan menyembunyikan silsilah asli mereka adalah orang-orang yang suatu hari nanti akan mengkritik dan mencemooh mereka, mengklaim bahwa mereka tidak memiliki silsilah. Jika mereka dihadapkan dengan silsilah palsu ini, mereka akan terbantahkan karena yang membantah inilah yang memalsukannya.”
Hal ini juga terjadi di Indonesia, di mana, seperti yang telah kami sebutkan, mereka memasukkan garis keturunan Walisongo sebagai Ba’Alawi dalam buku-buku mereka sejak tahun 1933 M, sementara Rabitah Alawiyah, pada tahun 2020 M, membantah garis keturunan keturunan Walisongo dalam surat resmi.
Siapa pun yang mengaku sebagai keturunan Walisongo, menurut Kiai ja’far, dan kemudian menerima bahwa mereka adalah Ba’Alawi telah merendahkan dirinya sendiri. (KD)