
Oleh: Rifky J Baswara
Setelah gagal sebagai cucu Muhammad SAW, Riziq Syihab kini mengaku sebagai cucunya Si Pitung. Lagi-lagi klaimnya tanpa ditunjang oleh sumber sejarah. Sama seperti klaim kelompok Baalwi bahwa mereka keturunan Nabi yang telah terbukti kepalsuannya. Bahkan kini telah terbongkar, bahwa kelompok Baalwi, jangankan sebagai keturunan Nabi, orang Arab saja bukan. Klaim Rizieq sebagai keturunan Pitung bisa dilihat di link berikut ini: (lihat: https://www.youtube.com/@wahyumicorazon/shorts).
Sebelum kita permasalahkan klaim Rizieq sebagai keturunan Si Pitung, kita perlu tahu dulu siapa si Pitung? Pantaskah Riziq Bangga sebagai keturunannya?
Si Pitung bukanlah sosok Fiktif. Ia adalah seseorang yang pernah ada di masa lalu. Ia hidup di akhir abad 19 M. ia tewas ditembak polisi pada 14 Oktober 1893 M. setelah diburu beberapa waktu sebagai buronan kasus pencurian.
A. Matua Harahap dari Universitas Indonesia mengatakan: “Untuk dipahami oleh pembaca, petualangan Si Pitoeng adalah suatu kasus umum. Berita terkait dengan Si Pitoeng antara tanggal 08-08-1892 hingga 16-10-1893 perkembangannya dari waktu ke waktu diberitakan surat kabar (nasional) Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie dan surat kabar (daerah) Bataviaasch nieuwsblad. Dua surat kabar ini terbilang sangat kredibel, ibarat koran Media Indonesia dan koran Pos Kota. Oleh karena itu kasus Si Pitoeng dapat ditelusuri secara terang benderang tanpa harus merasa ‘masuk angin’.” ( https://poestahadepok.blogspot.com/2019/12/sejarah-jakarta-61-si-pitung-dan-fakta.html)
Si Pitung Terbukti Mencuri Setrika
Dalam koran daerah bernama Bataviaasch nieuwsblad,yang terbit pada 08 Agustus 1892 M, diberitakan penangkapan seorang penjahat yang ditangkap karena dijebak oleh seseorang yang membujuknya untuk datang ke kantor kepala jaksa. Orang itu Bernama Pitung yang mempunyai senjata api tanpa izin. Ia dibujuk untuk membayar denda atas kepemilikan senjata api illegal ke kantor jaksa. Mungkin dengan iming-iming ia tidak akan ditangkap. Sesampainya di sana ternyata ia ditangkap. Penangkapan ini terkait dengan tindak kejahatan yang dilakukan sebelumnya yaitu pencurian setrika dan perampokan. Berikut ini potongan koran berita tersebut:

(Sumber: https://poestahadepok.blogspot.com/2019/12/sejarah-jakarta-61-si-pitung-dan-fakta.html )
Terjemah:
“Sebagai tindak lanjut dari laporan kami kemarin mengenai penduduk asli Pitoeng, saya menambahkan hal berikut. Penjahat ini dapat ditangkap karena ia telah jatuh ke dalam perangkap yang dipasang untuknya. Asisten Residen di sini, No. 1, memerintahkan seorang mata-mata untuk membujuk Pitoeng agar membayar denda atas kepemilikan senjata api tanpa izin di kantor Kepala Jaksa di sini, dan ia ditangkap di sana. Lebih lanjut, enam orang mengidentifikasi Master Cornelis Pitoeng sebagai pemimpin perampokan di Hajie Sapaoedin Meroenda. Di antara barang-barang milik Pitoeng, sebuah setrika yang berasal dari pencurian yang dilakukan di rumah Mr. F. di wilayah Grogol juga disebutkan.”
Pitung Merampok Rumah Seorang Haji di Marunda
Berita koran di atas juga memberitakan bahwa Si Pitung melakukan tindakan perampokan di rumah Haji Sapaudin di Marunda. Rumah di Marunda yang sekarang dikenal dengan rumah Si Pitung, sebenarnya bukan rumahnya, tetapi adalah rumah yang menjadi saksi akan aksi perampokan Si Pitung Bersama komplotannya.
Pitung Ditangkap Dengan Tuduhan Mencuri di Rumah Seorang Ibu-Ibu
Bukti primer menyebut bahwa Si Pitung pernah ditangkap dengan tuduhan mencuri di rumah seorang ibu-ibu di Kebon Jae. Data primer yang dimaksud adalah koran Bataviaasch niewsblad yang terbit satu masa dengan kehidupan Pitung. Pada edisi 9 Agustus 1892 koran itu memberitakan aksi penangkapan Si Pitung yang telah dituduh mencuri di rumah seorang ibu-ibu Bernama Ibu DC yang beralamat di Kebon Jae. Setelah ditangkap rumah Si Pitung di Kampung Sukabumi (Rawa Belong) digeledah. Berikut ini potongan koran Bataviaasch Nieuwsblad tanggal 9 Agustus 1892:

Terjemahan:
Si Pitung Bersembunyi di Kuburan

(sumber: https://www.liputan6.com/news/read/2437616/journal-jejak-si-pitung-pendekar-betawi )
Isi:
“Pitoeng tertangkap. Pada hari Saptoe jl. toewan schout Hinne dapet kabar dari satoe mata mata, jang si Pitoeng ada di kampoeng Kota-Bamboe, di antara Tan-djoong dan djati. Setelah dapat itoe kabar, toewan Hinne lantas pergi ka sana bersama sama oppas dan itoe mata mata, dan pada tempo ampir sampe di itoe kampoeng Kota-Bamboe, ija bertemoe pada satoe mata mata jang lain, dan ini mata mata menetepken bitjaranja mata mata jang pertama, dengan kasih taoe djoega, bahoewa di itoe waktoe si Pitoeng ada berdiam di soewatoe koeboeran jang ter idar dengan gegombolan. Sasoedahnja taoe terang di mata adanja koeboeran itoe, toewan Hinne ada ingat, jang djikaloe betoel si Pitoeng ada di sitoe dan niat berlari pergi, tantoe sekali ija tida nanti lari ka Djati, kerna djika lari ka sana, ija nanti dateng di djalanan raja: maka djadilah toewan Hinne serta…”
Tidak Benar Si Pitung Habis Merampok Bagi-Bagi Kepada Masyarakat
Menurut wawancara Harian Kompas tahun 1971 dengan Haji Abdul Karim cucu keponakan Si Pitung, cerita di film bahwa Si pitung bagi-bagi hasil rampokan itu tidak benar. Silsilah Haji Abdulkarim adalah Haji Abdulkarim bin Abdullatif bin Ri’in. Ri’in adalah kakak kandung dari Salihun atau Si Pitung. Dalam sumber primer, Si Pitung tidak diberitakan punya anak tetapi ia punya isteri Bernama Sarinah. Di bawah ini potongan koran Harian Kompas yang dibagi oleh Perpustakaan Nasional (Perpusnas) di halaman resmi Facebook Perpusnas pada 19 Januari 2019.


Sebelum Mati Si Pitung Meminta Es Tuak Manis
“Menurut surat kabar Hindia Olanda (1893), sebelum meninggalnya Si Pitung di Stadsverband, dalam keadaan yang penuh luka dan lemas Si Pitung meminta minum es tuak. Ini ia katakan sebagai permintaan terakhir sebelum pergi menuju keabadian. Peristiwa ini sebagaimana mengutip surat kabar tersebut berikut ini: “ketika ia maoe mati, tjoema ia biasa minta pada pendjaganja satoe glas toewak manis dan ijs (es). Tetapi tida sampe dikasi”. (https://www.harapanrakyat.com/2023/03/penangkapan-si-pitung-tahun-1893-jawara-betawi-kontroversial/)
Pitung berpakaian seperti Banci
“Dalam hari-hari ini polisi telah dapet kabar. Bahawa itu orang hukuman mati bernama Pitoeng, yang telah minggat dari penjara, hendak kabur dengan mengikut kapal mail Prasman dan berpakaian seperti perempuan. Dua pegawai polisi yang berpakaian preman, disuruh cegat pelari itu; tapi pelari itu tidak terdapet di antara orang-orang yang (hendak) pergi berlayar dengan itu kapal, tulis Hindia Olanda edisi 12 Mei 1893. (https://tirto.id/revolver-pitung-dan-tuak-manis-terakhirnya-bnTK )
Si Pitung Kabur dari Penjara dengan Menghilang?
Berita Hindia Olanda membalikkan anggapan mengenai kesaktian Pitung. Pada 25 April 1892, koran ini melaporkan pengakuan sipir penjara ihwal kaburnya Pitung dari penjara Meester Cornelis–sekarang Jatinegara. Sipir penjara mengaku meminjamkan perkakas dan tambang kepada Pitung. Perkakas itu kemudian digunakan Pitung dan temannya Ji’i untuk kabur dari penjara. Mitos yang berkembang menyebutkan Pitung bisa kabur dari penjara menggunakan ilmu menghilang. (https://www.liputan6.com/news/read/2437616/journal-jejak-si-pitung-pendekar-betawi )
Si Pitung Kebal Peluru?
Cerita kematian Pitung yang dilaporkan Hindia Olanda pada 14 Oktober 1893 juga mematahkan ilmu kebal Pitung. Pendekar Betawi ini disebut terluka akibat empat peluru yang bersarang di kaki, dada kanan, pinggang, dan bokong. Terdapat setidaknya tiga polisi yang menyergap Pitung. Peluru yang bersarang di dada kiri Pitung berasal dari senapan Schout Hinne. Pitung sendiri sempat balas menembaki polisi menggunakan dua revolver di tangannya. Namun, tembakan Pitung tak sempat melukai para polisi. (https://www.liputan6.com/news/read/2437616/journal-jejak-si-pitung-pendekar-betawi )
Mitos Kesaktian Pitung Disebarkan Belanda
Rushdy Husen, Sejarawan Universitas Indonesia yang mempelajari kolonialisme dan pergerakan kemerdekaan, menduga terdapat motif pribadi dan kolonial di balik berkembangnya cerita mengenai kesaktian Pitung. Dia menyebut Schout Hinne merupakan polisi rendahan–setingkat Kepala Kepolisian Sektor–yang berambisi mendapatkan jabatan lebih tinggi. Hinne, katanya, telah mempelajari psikologi masyarakat Betawi ketika itu. Ketika dihadapkan pada perampok ulung seperti Pitung, Hinne menemukan cara untuk mendapatkan jabatan itu. “Hinne ikut menyebarkan cerita soal kesaktian Pitung,” ujar dia. Menurut Rushdy, Hinne mendapatkan penghargaan tinggi ketika dianggap berhasil menaklukkan pendekar sakti seperti Pitung. Akibatnya, Hinne mendapat promosi jabatan hingga memimpin Kepolisian Belanda untuk kawasan Batavia. Setelah kembali ke negaranya, Hinne mendapat uang dan penghormatan yang cukup besar. Cerita kesaktian Pitung, kata Rushdy juga dimanfaatkan pemerintah kolonial. Menurut dia, cerita bahwa orang sakti yang jahat bisa ditaklukkan pemerintah kolonial mengisyaratkan bahwa penguasa lebih hebat ketimbang tokoh yang dipuja masyarakat. (https://www.liputan6.com/news/read/2437616/journal-jejak-si-pitung-pendekar-betawi )
Demikianlah sosok Pencuri setrika yang dibanggakan Rizieq sebagai leluhurnya menurut sumber sezaman berupa koran-koran yang terbit pada masa Si pitung.