
Penulis: Rifky Zulkarnaen J. Baswara
Prolog
Apa jadinya (PB)NU jika tidak ada tesis Kyai Imad (polemik nasab) dan pengungkapan kejahatan Baalwisasi-Yamanisasi? Cobalah berandai-andai tidak ada itu semua dan NU berjalan terus sebagaimana keadaan pada pra-tesis dengan segenap komprehensi dan kompleksitasnya yang tidak perlu dirinci di sini. Setiap orang boleh saja menyusun prediksi skenario kalkulatifnya. Dalam jangka pendek, menengah, dan panjang. Mungkin kita bisa berbeda hasil perhitungannya namun izinkan saya memaparkan sesuatu kepada Anda.
NU dan Klan Habib Baalwi
Penulis pernah mendiskusikan ini dengan beberapa orang dan salah satu Gus di situ, sebut saja nama aliasnya adalah Gus Benhan, berkesimpulan dengan nada mayor yang sama yaitu akan terjadi eksodus besar-besaran dari NU—andai tidak ada tesis Kyai Imad dan pengungkapan Baalwisasi-Yamanisasi. Pasalnya, orang akan kecewa, tersakiti, dan terluka pikiran, hati, dan martabatnya karena NU menyubur-nyuburkan dan terus mendesakkan nilai, kultur dan sistem feodalistik atas nama cucu Nabi (yaitu harus tunduk kepada Klan Habib Baalwi) yang merepresi dan menginjak-injak psikis, harta benda dan martabat diri. Dalam jangka menengah dan panjang orang-orang akan keluar dari NU karena fitrah manusia (default setting) pasti tidak mau hidup menderita dan terhina, manusia pasti akan berjuang keluar dari penderitaan dan pasti menuju pencapaian ketenangan, ketentraman dan kegembiraan hidup. Pada jangka waktu pendek perpindahan dari NU mungkin tak terjadi, belum terjadi, atau sudah terjadi dengan belum teridentifikasi. Namun, pada jangka menengah apalagi panjang, fenomena itu tak terelakkan. Anda mungkin bertanya mengapa penulis begitu yakin? Saya recall penjelasan di atas dengan bahasa berbeda: karena NU melawan fitrah manusia.
Mari kita perinci. Mengaku (jadi) NU menderita karena habib, tidak mengaku (jadi) NU malah tenang dan bahagia karena lepas dari kewajiban tunduk pada habib; mengaku (jadi) NU terhina hidupnya oleh habib, tidak mengaku (jadi) NU malah mulia hidupnya karena lepas dari habib; mengaku (jadi) NU tidak selamat hidup dan martabatnya dari habib, tidak mengaku (jadi) NU malah selamat hidup dan martabatnya dari habib; mengaku (jadi) NU didawir dan dilecehkan oleh Habib, tidak mengaku (jadi) NU tidak didawir dan tidak dilecehkan oleh Habib; mengaku (jadi) NU jadi error dan tolol, tidak mengaku (jadi) NU kok tambah cemerlang hidupnya.
Tentu pembaca tahu hadist “Seorang muslim sejati adalah orang yang kaum muslimin lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya”. Bagi masyarakat luas (umum, awam) yang cenderung pragmatis, mereka merasakan menjadi NU malah “muslim sejati adalah orang yang kaum muslimin lainnya tidak selamat dari gangguan lisan dan tangannya habib plus wajib jadi budak Baalwi”. Menjadi NU malah memperoleh ketidakselamatan dari gangguan lisan dan tangan Klan Habib Baalwi dan budak-budaknya. Hartanya diperas, istrinya diambil, martabatnya dilecehkan, santriwatinya diminta selayaknya sekedar barang mati—lebih nista daripada itu: dipandang seperti stok-stok pelacur[1], kuburan leluhurnya dipaving, identitas leluhurnya dirampok, kemuliaan sejarahnya dirampas. Menjadi NU, menderita; tidak menjadi NU, lega hati dan jiwanya. Menjadi NU, neraka; tidak menjadi NU, surga. NU menciptakan keadaan terbalik begitu (andai tidak ada tesis Kyai Imad dan perang terhadap kejahatan Baalwisasi-Yamanisasi).
Dalam keadaan terbalik begitu orang akan pilih mana? Sangat mudah jawabannya: pilih tidak menjadi NU. Pasti orang akan memilih keluar dari keadaan neraka. Lalu ke mana? Bisa ke mana saja yang penting bukan NU, apa saja asal bisa melindungi diri, harta benda, dan martabatnya serta meningkatkan kualitas diri dan hidupnya.
Yang sungguh disayangkan meski sudah ada tesis Kyai Imad dan pengungkapan kejahatan Baalwisasi-Yamanisasi, elite-elite (PB)NU tetap istiqomah sikapnya mendesak-desakkan dan menyubur-nyuburkan nilai, kultur dan sistem feodalistik melalui pembelaannya kepada nasab Klan Habib Baalwi dan ajarannya. Lihat bagaimana sikap dan doktrin ke warga NU dari Rais Aam PBNU (KH. Miftachul Akhyar), Ketua PBNU Bidang Keagamaan (Fahrur Rozi), Gus Kautsar, Gus Iqdam, Gus Najih, cluster genk Al Anwar Rembang Connection, Kyai Zulfa Mustofa, Gus Miftah, dll. Kalau itu diterus-teruskan, lambat laun orang akan lari karena kecewa, terluka hatinya dan lama-lama lelah juga melihat sikap tidak empatik dan tidak tegas menegakkan keadilan dari mereka yang dipersepsikan sebagai elite NU.
Orang mungkin tidak secara terus terang mendeklarasikan diri keluar dari NU. Mereka melakukannya diam-diam. Pergeseran dan perpindahan konsumen selalu diam-diam, mereka tidak gaduh dalam kata, konsumen tak repot-repot kulo nuwun. Tahu-tahu pindah, tahu-tahu ganti produk, lalu terasa mengejutkan seolah-olah ‘tiba-tiba’ market share merosot tajam. Seperti fenomena Nokia yang dulu merajai 49-51% market ponsel dunia selama bertahun-tahun hancur dalam waktu singkat.
Nokia dan NU tidak persis sama tetapi bukanlah suatu kemustahilan NU bisa mengalami apa yang dialami Nokia dan organisasi besar lainnya yang tiba pada suatu titik puncak lalu declining tajam lantas hilang sebab lambat atau telat bertransformasi dan tak lagi kompatibel dengan market. Ya, kader-kader NU akan tetap ada yang stay memperjuangkan NU tetapi masyarakat luas di luar sana tidak dapat dipastikan akan tetap stay. Generasi masyarakat berikutnya juga tidak dapat dipastikan akan memilih mengasosiasikan dirinya dengan NU. Faktor vitalnya: orang tua-orang tua di luar sana sudah pasti akan memilih menyelamatkan anak-anaknya. Faktor itu mempengaruhi persentuhan NU dengan generasi masyarakat berikutnya.
Analisis di atas tidak detail memaparkan dinamika faktor internal-eksternal namun cukup mewakili apa yang butuh diperhatikan.
Satu hal lain yang barangkali luput diperhatikan atau diremehkan atau dianggap tidak penting oleh elite (PB)NU selama ini adalah sikap elite (PB)NU yang membela Klan Habib Baalwi tetapi hening tak peduli terhadap kejahatan pemalsuan kuburan, identitas, dan sejarah yang dilakukan pihak yang dibelanya yaitu Klan Habib Baalwi—yang secara langsung ‘menyenggol’ marwah dan hati Kraton Ngayogyakarta dan trah-trahnya. Saya tidak tahu juga tidak dapat memastikan bagaimana pandangan Kraton Ngayogyakarta melihat gestur (PB)NU yang seperti itu. Tidak pula dapat dipastikan Kraton Ngayogyakarta dan atau trah-trahnya tidak memberi catatan khusus terhadap gestur (PB)NU itu dan sikap yang tetap kooperatif-akomodatif terhadap Klan Habib Baalwi di tubuh (PB)NU. Saya harap (PB)NU tidak ceroboh menambah silent enemy yang seharusnya tak perlu terjadi. Sebabnya, dalam suatu catatan instruksi militer di kala perang mempertahankan kemerdekaan dikatakan tidak ada jembatan antara sikap kooperatif dan non-kooperatif dengan penjajah.
“Bukankah yang melakukan kejahatan luar biasa itu adalah oknum-oknum Baalwi? Tidak semuanya.” Saya sudah menjawab itu pada tulisan lain. Saya tidak berminat lagi berpanjang-panjang mengulang tentang itu. Silakan saja hendak berpendapat seperti apa atau entah bagaimana Anda akan mempertahankannya. Saya kira Anda sebenarnya tak senaif itu jika jujur cara membaca fenomenanya
Bagaimana pun, keputusan yang terbaik bagi kemaslahatan (PB)NU, Bangsa dan Negara adalah merelakan Klan Habib Baalwi untuk tidak lagi di tubuh NU dan mengizinkan mereka untuk hidup mandiri. (PB)NU sudah semestinya lebih memilih menyayangi dan menyelamatkan 130 juta Nahdliyyin dibanding mati-matian memilih menyelamatkan segelintir kelompok imigran dengan mengorbankan 130 juta Nahdliyyin dan masa depannya. Betapa aneh jika tidak demikian.
Ditinjau dari sudut aspek yang bagaimana pun Klan Habib Baalwi merupakan silent killer bagi NU. Dengan tetap kooperatif dengan Klan Habib Baalwi (PB)NU tidak akan lagi kompatibel dengan market (masyarakat)—Anda boleh saja tidak percaya kepada saya, silakan hitunglah sendiri. Dari situ saya pun penasaran atas dasar apa elite (PB)NU masih merangkul dan mempertahankan mati-matian pihak yang melakukan kejahatan dan ketika terungkap tak satu pun yang meminta maaf, mengklarifikasi, mengkoreksi, atau menyatakan memisahkan diri dari pelaku kejahatan yang berasal dari Klannya sendiri? Yang kejahatan itu juga menguntungkan dirinya per individu selama ini dan di masa depan nanti—antai tak terekspos ke publik. Entah disadari atau tidak, elite-elite (PB)NU lebih menyayangi pihak yang berbuat zalim ketimbang yang dizalimi.
Merelakan dan melepaskan tak berarti bermusuhan juga tak berarti tak mencintai juga tak berarti menciptakan perpecahan. NU dan Muhammadiyah berbeda organisasi, lalu apakah lantas itu perpecahan dan permusuhan? Empat mazhab juga berbeda, tarekat jumlahnya banyak—tidak satu, apa itu perpecahan dan permusuhan? Kan tidak. Jangan terlampau obsesif dengan persatuan yang belum jelas direnungi dalam-dalam definisi dan duduk perkaranya.
Elite-elite terlalu obsesif pada paradigma ‘persatuan’ yang diam-diam artinya adalah orang lain harus ikut tunduk patuh kepada dirinya; jika tidak seperti itu maka itu adalah memecah belah umat, maka itu adalah merusak persatuan, maka itu adalah perpecahan. Yang karena keobsesifan itu muncul jargon-jargon ‘Kyai dan Habib bersatu’, ‘Jangan mau dipisahkan antar Kyai dan Habaib’, dan jargon sejenis itu. Itu janggal, Anda ke Klan Habib Baalwi begitu tetapi kepada orang Muhammadiyah dan ormas lainnya ndak bengak-bengok ‘NU dan Muhammadiyah dan ormas lainnya bersatu’. Maka haruslah diperjelas bersatu dalam konteks apa, berpisah dalam konteks apa, apakah jika berbeda maka mutlak tidak ada titik temu yang mendudukkan semuanya di meja yang sama.
NU dan Klan Habib Baalwi tidak harus bersatu dalam satu organisasi. Apalagi mereka telah melakukan kejahatan kemanusiaan luar biasa. Bukankah nama lain dari Al Quran adalah Al Furqan, yang membedakan dan memisahkan baynal haq wal batil. Tidak harus bersatu bahkan pada suatu keadaan wajib dipisah dengan jelas, tegas dan terang-benderang demi kemaslahatan; dengan tetap di ruang pertemuan sosial kita saling bertemu dengan baik-baik saja. Maka relakanlah Klan Habib Baalwi untuk hidup mandiri dengan Rabithah Alawiyahnya. Jika Anda tidak melepaskannya secara halus Anda memandang dan memposisikan mereka sebagai pihak yang hina dan lemah yang harus terus-menerus dibantu. Berdasar arogansi mereka yang menyejarah, pandangan semacam itu tidak mereka kehendaki. Biarkanlah mereka berjalan sendiri dan menjadi besar oleh dirinya sendiri (jika mampu) sesuai ajarannya sendiri. Pertemuan Anda dengan mereka biarkan seperti pertemuan NU dengan Muhammadiyah atau dengan ormas lainnya di tengah masyarakat. Para elite (PB)NU harus belajar the art of letting go. Lepaskanlah. Relakan.
Tetapi jika pun tidak, elite-elite (PB)NU tetap berteguh, bagi saya pribadi tidak apa-apa. Biarkan realitas yang menunjukkan apakah NU akan tetap relevan dan kompatibel dengan zaman atau tidak. Bagi saya pribadi, sepanjang Bangsa Pribumi Nusantara tetap berkepribadian cemerlang dan gagah, NU hilang atau tidak, Muhammadiyah hilang atau tidak, atau ormas lain hilang atau tidak; Tanah Nusantara akan terus melahirkan NU-NU berikutnya, Majapahit berikutnya, Sriwijaya berikutnya, Singosari berikutnya, Samudera Pasai berikutnya,Pangeran Diponegoro berikutnya, Syaikh Nawawi Al Bantani berikutnya, Syaikh Abdul Karim berikutnya. Hanya saja amat disayangkan apabila NU hilang ditelan zaman hanya karena lambat atau tidak bertransformasi padahal semestinya bisa dan sangat bisa dan momentumnya pun telah disediakan dengan tepat oleh Allah Swt.
Epilog
Suatu ketika saya diceramahi Abah Guru. Kata beliau, “Muslim tidak jatuh di lubang yang sama dua kali” (hadits). NU merangkul Klan Habib Baalwi karena kasih sayangnya melihat sebuah Klan yang luntang-lantung keleweran tak lagi memiliki power ketika Belanda pergi. NU memberi kesempatan dengan penuh kasih sayang kepada Klan Habib Baalwi. Hasilnya kita saksikan bersama hari ini: Bangsa Pribumi hendak dibunuh eksistensinya, untungnya bisa dicegah. Itu lubang pertama yang kaki NU jatuh di dalamnya. Jika elite-elite (PB)NU mengulanginya lagi, mungkin hadits itu artinya kalau dua kali jatuh di lubang yang sama memang tidak boleh tapi kalau tiga, empat, lima kali, itu boleh dan itu adalah tanda muslim yang tangguh, teguh, tabah, sabar dan tawakkal. Semakin banyak kuantitas jatuhnya di lubang yang sama menunjukkan semakin tinggi maqam ruhaninya—semakin wali.
Memang teguh hati dan keras kepala secara dzahir terlihat sama namun secara substantif-filosofis landasannya beda. Hemat dan pelit juga demikian. Disiplin dan mekanistis juga demikian. Pun, baik dan bodoh juga demikian. Orang biasanya rancu dan bingung di situ. Maunya jadi baik tapi kok bodoh. Itu wajar. Tetapi apa pun itu, masih banyak lubang-lubang lainnya yang kita bisa jatuh ke dalamnya. Masih banyak lubang yang belum dicoba untuk jatuh berulangkali guna menguji dan menunjukkan ketangguhan, keteguhan, ketabahan, kesabaran dan tawakkal yang berkonsekuensi kepada ketinggian maqam ruhani warga dan elite-elite NU. Maka cobalah jatuh di lubang yang lain bukannya terus-menerus jatuh di lubang yang sama.
[1] Lihat Habib berburu santriwati https://youtu.be/HJp3MrunnDg?si=XN6nQk8gpXmuMYPC