Lodewijk Willem Christiaan (L.W.C.) van den Berg (1845–1927) adalah seorang orientalis, ahli hukum, dan politikus asal Belanda yang memiliki peran signifikan dalam sejarah hukum dan studi Islam di Indonesia pada masa kolonial Hindia Belanda. Lahir di Haarlem, Belanda, 19 Oktober 1845. Meraih gelar doktor dalam ilmu sosial dari Universitas Leiden.
Ia merupakan peneliti pertama yang melakukan kajian mendalam dan rinci mengenai keturunan Arab di Nusantara (khususnya keturunan Hadrami). Salah satu karya terkenalnya adalah Le Hadhramout et les colonies arabes dans l’archipel Indien tahun 1886. Buku ini termasuk “Contemporary Record” (rekaman semasa) Ketika Baalwi baru beberapa tahun ada di Nusantara. Buku ini kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Rahayu Hidayat dan diterbitkan oleh Indonesian Netherlands Cooperation in Islamic Studies (INIS) tahun 1989)dengan judul “Hadramaut dan Koloni Arab di Indonesia”. DR. Karel Adrian Steenbrink memberikan kata pengantar dalam cetakan itu. Ia adalah seorang akademisi, peneliti, dan ahli studi Islam asal Belanda yang sangat berpengaruh dalam kajian agama di Indonesia.
Walau dalam buku itu Van den Berg mengulas orang Arab secara umum tetapi dalam tulisan ini kita akan menghususkan bahasan terhadap reportasenya terhadap Klan Habib Baalwi. Yang dimaksud dengan “Orang Arab Hadrami” begitu juga istilah “Sayid” yang dimaksud dalam buku Van den Berg adalah apa yang difahaminya waktu itu secara geografis dan antropologis bukan dalam makna genealogis. Karena hasil uji tes DNA beberapa sampel Klan Habib Baalwi yang berhaplogroup G menginterupsi makna tersebut, yaitu ketika haplogroup J merupakan haplogroup yang umum untuk orang Arab.
Beberapa hal penting yang terdapat dalam buku Van den Berg itu di antaranya:
A. Arab Hadramaut Termasuk Klan Habib Baalwi Tidak Peduli Dengan Penjajahan Belanda Terhadap Bangsa Nusantara
Van den Berg berkata:
“Masalah politik di Nusantara dilihat oleh orang Arab Hadramaut dengan ketakpeduliận, selama kepentingan materiel dan spiritual mereka tidak menjadi taruhan.” (Hadramaut dan Koloni Arab di Nusantara, L.W.C. van den Berg (1886), INIS Jakarta 1989 h. 116)
“Di dalam pertikaian antara pemerintah Belanda dan para priagung pribumi, orang Arab Hadramaut hampir selalu memihak orang Eropa, atau paling tidak bersikap netral.” (h.117)
“Sebaliknya ada seorang Arab yang dalam perang itu telah berjasa secara politis kepada pemerintah (Belanda-red) Orang itu adalah Sayid Muhammad bin Abu Bakr Aidid yang kini telah wafat, namun ketika hayatnya adalah kepala kelompok Arab di Batavia. Untuk membalas jasanya, pada tahun 1877, pemerintah menganugerahkan gelar kehormatan mayor, dan dua tahun kemudian pangeran, artinya gelar tertinggi dalam kebangsawanan pribumi.” (h. 117)
“Contoh Sayid Aidid bukan satu-satunya yang dapat disebutkan. Sejumlah Arab terhormat yang lain juga menunjukkan loyalitas mereka kepada pemerintah Belanda… Sayid Abd ar-Rahman bin Abu Bakr al-Qadri di pulau Sumba selama 50 tahun menjadi penghubung antara penguasa Belanda dan para pemimpin di pulau itu. Di samping itu ia juga sangat berjasa kepada mereka yang datang ke pulau itu untuk berdagang. Seorang anggota keluarga itu yang lain, Sayid Abd ar-Rahman bin Hamid al-Qadri, pada tahun 1862 menerima gelar pangeran karena berjasa turut menyelesaikan kerusuhan di Banjarmasin. Anugerah yang sama diberikan pada ahun 1879 kepada Sayid Abd Allah bin Manşür al-Aidrūs di Batavia yang, dalam kedudukannya sebagai pemimpin upacara pribumi, telah ditugasi menerima dan mengantarkan para priagung dan pemimpin pribumi dari segala tempat. Kedudukan kepala koloni Arab di Palembang, selama lebih dari setengah abad, ditempati keluarga Syekh Abu Bakr. Dua anggota keluarganya telah memperoleh anugerah gelar pangeran dari pemerintah Belanda dan bintang jasa, karena telah membuktikan kesetiaan mereka dan berjasa menyelesaikan keresahan politik yang beberapa kali melanda Palembang. Akhirnya, dari tahun 1820 hingga 1827, Sayid Hasan bin Umar al-Habsyi, dari Surabaya, ditugasi berbagai misi penting oleh pemerintah Belanda kepada Sultan Siam, Brunai, dan kepada para priagung di pulau Bali dan di Surakarta. Ia menggunakan seluruh pengaruhnya di wilayah-wilayah itu untuk mensukseskan proyek-proyek pemerintah. Di samping itu, pada tahun 1830, ia menyerahkan laporan yang paling menarik kepada gubernur jendral, mengenai perompak yang bergiat di Nusantara dan mengenai cara-cara memberantas mereka. Sebagai tanda terima kasih, ia dianugerahi gelar pangeran pada tahun 1822, dan menerima gaji tahunan sebesar 4.800 gulden.” (h. 117)
Dari buku Van den Berg juga, kita dapat menambah daftar Klan habib Baalwi yang mendapat gelar tanda kehormatan dari penjajah Belanda yang telah kita ketahui dari sumber lainnya.
B. Daftar Klan Habib Baalwi yang Mendapat Penghargaan Gelar atau Bintang jasa dari Penjajah Belanda Atas Jasa-Jasanya
C. Kisah Pengkhiantan Habib Abdurrahman Azzahir Al-Masyhur Baalwi Bertampang Penipu Menghianati Bangsa Aceh
Van den Berg berkata:
“…pada tahun 1878, karena menyadari bahwa keinginan rakyat Aceh untuk merdeka tidak mungkin terwujud, ia menawarkan kepada pemerintah Belanda untuk meninggalkan gerilya asalkan diberi gaji seumur hidup sebanyak 30.000 gulden. Tawaran itu diterima oleh pemerintah Belanda, dan sejak itu ia menetap di Mekah. Menurut banyak orang yang mengenalnya, ia bertampang penipu, namun justru itu yang membuatnya berhasil membujuk kaum pribumi. Meskipun demikian, ia tahu sekali bahwa dirinya penting sehingga ia memenuhi harapan pemerintah Belanda yang memanggilnya dari waktu ke waktu untuk ke datang Batavia dan menerima tugas-tugas penting. Bahkan ia berpikir untuk menawarkan bantuan kepada pemerintah Belanda dalam urusan Aceh, dengan pengetahuan dan nasihat-nasihatnya.” (h.132)
D. Klan Baalwi Menguasai Kerajaan Siak dengan Cara Licik
Van den Berg berkata:
“Seorang anggota keluarga as-Saqqaf bermukim di Siak, menjelang pertengahan abad yang silam, mengawini saüdara seayah sultan dan, pada tahun 1782 dijadikan wakil sultan untuk urusan dengan otoritas Belanda di Malaka. Demikian pula halnya dengan seorang anggota keluarga bin Syihab, yaitu Usman yang telah mengawini putri Sultan Siak, dan anaknya Sayid Ali bin Usman bin Syihab berhasil menurunkan dinasti penguasa dari tahtanya, lalu mengangkat diri menjadi Sultan Siak, pada tahun-tahun terakhir abad XVIII. Keturunannya masih memerintah di sana sebagai vasal pemerintah Belanda.” (h. 130)
E. Kisah Habib Syekh bin Ahmad Bafaqih Botoputih Surabaya
Di Surabaya ada seorang Klan Baalwi yang selalu dihauli. Pada tahun 2025 lalu haul dilaksanakan pada tanggal 10 April . lalu bagaimana kisah hidupnya menurut Van den Berg yang pernah bertemu dengannya.
Van den Berg berkata:
“Kemujuran memperkenalkannya dengan Sultan Sumenep yang mempercayakan pendidikan putra-putranya kepadanya, dan sebagai gaji, ia memperoleh pendapatan dari beberapa desa. la bekerja selama sekitar 25 tahun untuk Sultan, namun setelah Sultan mangkat, ia kehilangan kedudukannya. Karena terbiasa mendapat tunjangan besar dan sekaligus hidup mewah, gaji pensiun yang diperolehnya dari putra sulung yang sekaligus pengganti Sultan, tidak mencukupi untuk menutup kebutuhannya. Lalu ia mulai menandatangani bon pinjaman uang kepada orang Cina dan Eropa, dengan harapan langit atau mungkin sahabat-sahabatnya akan membayarkan untuknya. Harapan itu kosong, karena kreditornya akhirnya mengadukannya ke yang berwajib… salah seorang putra Sultan, untuk menghormati Bekas guru asuhnya, telah membayarkan hutangnya, sehingga sayid yang awas itu dibebaskan. Namun karena memahami Sumenep bukan lagi tempat yang menguntungkan, ja pindah ke Batavia dan menetap di sana selama kurang lebih 1o tahun, mengajar di sekolah dan hidup dari sumbangan sahabat-sahabatnya, atau dari saham yang dengan cerdik diletakkannya di rumah-rumah dagang Eropa, dan mengaku sebagai pedagang. Akhir dari petualangan itu sama seperti di Sumenep, yaitu penjara. Setelah dibebaskan oleh sahabat-sahabatnya untuk yang kedua kalnya, ia meninggalkan Batavia dan menetap di Semarang untuk memulai kembali cara hidup yang sama. Saya mengenalnya di kota terakhir itu, pada tahun 1870 dan 1871, dan saya menyaksikan lehancurannya yang ketiga. Menarik jika kita bandingkan pendapat para kreditor dengan pendapat rekan-rekan sebangsanya dan para penerusnya. Kelompok yang pertama menobatkannya sebagai penipu, atau bajingan, dan tidak mengerti mengapa saya mengizinkan orang seperti itu untuk mengunjungi saya dari waktu ke waktu, sedangkan kelompok yang lain menghormatinya seperti seorang suci. Ia memanfaatkan peranan yang terakhir itu, hanya berbicara untuk menggurui dan bersikap seperti orang tua yang terhormat. Hubungan dengan orang-orang Eropa yang memperlakukannya sebagai manusia biasa sangat melukai hatinya. Setelah keluar dari penjara di Semarang, ia menetap di Surabaya dan wafat beberapa tahun kemudian. Di makam Batu Putih, makam khusus keluarga bupati, didirikan nisan dari marmer di atas kuburnya… Saya kira para cucu sayid itu hidup seluruhnya dari benda-benda yang dibawa ke makam. Oleh karenanya pula mereka terus menyebarluaskan mukjizat-mukjizatnya. Saudara lelakinya, tokoh yang tidak jelas, dimakamkan di sebelahnya…” (h.108-109)
F. Klan Habib Baalwi Tidak Bisa Memasuki dan Mempengaruhi Kesultanan Banten dan Mataram
Banyak kerajaan dan daerah yang bisa diinfiltrasi oleh Klan Baalwi di Nusantara seperti Siak, Sumenep, Palembang, Mempawah, Ternate dan Lombok. Tetapi menurut Van den Berg ada dua kesultanan di Jawa yang tidak bisa dipengaruhi Klan Baalwi yaitu Banten dan Mataram.
Van den Berg berkata:
“ Hal itu tidak menghalangi para priagung Banten untuk tetap memelihara hubungan dengan Mekah. Di kota itulah pada tahun 1638 gelar sultan diberikan, seperti halnya yang terjadi di Mataram pada tahun 1632. Bangsa Arab dari Hadramaut tidak pernah berhasil mempengaruhi baik para sultan di Banten maupun di Mataram. Mereka lebih suka bermukim di wilayah lain di pulau Jawa yang telah diduduki eleh VOC, dan kemudian oleh pemerintah Belanda.” (h.129)
G. Ulama Pribumi Antipati Terhadap Arab Hadramaut Termasuk Klan Baalwi
Van den Berg berkata:
“Saya dapat maju lebih jauh lagi dengan menyatakan bahwa di Jawa khususnya, justru ulama pribumilah yang menunjukkan secara terbuka antipati mereka terhadap orang Arab. Mereka tidak suka melihat orang Arab, bahkan Arab campuran, diterima di dalam peringkatnya. Begitu pula halnya dengan pribumi guru agama Islam. Semakin tinggi pengetahuan mereka mengenai ilmu kalam dan hukum Islam, semakin mereka menguasai bahasa Arab, semakin mereka menjaga jarak dengan orang Arab Hadramaut, yang membayar mereka dengan uang juga.” (h. 104)
H. Van den Berg Bongkar Klaim Lutfi bin Yahya tentang KRT. Sumodiningrat
Belum selesai permasalahan klaim Lutfi bin Yahya bahwa KRT. Sumodiningrat seorang pahlawan dari Jogjakarta yang dimakamkan di Jejeran Jogja itu adalah dari klan Bin Yahya Baalwi. Pihak keluarga KRT. Sumodiningrat membantah bahwa pahlawan yang wafat syahid melawan penjajah pada tahun 1812 itu adalah dari Klan habib Baalwi. Pihak Lutfi bin Yahya bergeming bahwa KRT. Sumodiningrat adalah bermarga bin Yahya dan dimakamkan di Semarang.
Van den Berg mengungkapkan bahwa nama marga bin Yahya itu bukanlah Sumodiningrat tapi Sumodiharjo. Dan ia bukan pahlawan yang gugur melawan penajajah bahkan ia adalah tantara Belanda yang memerangi Pangeran Diponegoro pada Perang Jawa.
Van den Berg berkata:
“Seorang anggota keluarga bin Yahya, yaitu Tahir, tiba di Pulau Pinang juga pada awal abad ini. Ia mengawini seorang putri dari keluarga Sultan Yogyakarta yang diasingkan ke pulau itu oleh Gubernur Jendral Inggris, Raffles. Ia datang ke Jawa setelah Sultan kembali dari pengasingan, dan menetap di Semarang. Dua di antara putranya tinggal di Arab, namun yang ketiga, Ahmad, dikira orang Jawa dan bekerja sebagai sukarelawan di pasukan kavaleri Belanda dengan nama Raden Sumodirjo, la turut dalam perang Jawa, dan setelah perdamaian pada tahun 1830, ia meninggalkan angkatan bersenjata sebagai pensiunan marsekal. Maka ia kembali mengenakan pakaian Arab-nya dan menetap di Pekalongan. la kawin dengan anak seorang Arab, dari keluarga Baabūd. Anaknya Şalih mengaku orang Jawa juga dan bekerja sebagai pegawai sipil pemerintah Belanda dengan nama Raden Sumodiputro.” (h. 147)
Demikian beberapa point yang penting yang terdapat dalam buku Hadramaut dan koloni Arab di Indonesia karya L.W.C. van den Berg.
Penulis: Imaduddin Utsman Al-Bantani