Figur Gus Aziz Jazuli, Alumni Tarim yang Berani Angkat Isu Nasab: “Ilmu Itu untuk Menguji Kebenaran”

Posted by: Admin 09-Apr-2026 Tidak ada komentar

Serang — Nama Gus Aziz Jazuli telah dikenal publik setelah sejumlah ceramahnya tentang pembahasan nasab Baalwi dan khurofatnya beredar luas di media sosial khsusunya dari kanal YouTube Gus Aziz Jazuli, Lc, MH. Ia dikenal sebagai santri yang pernah menempuh pendidikan di pesantren di Pasuruan, Jawa Timur, sebelum melanjutkan studi ke kota Tarim di Hadramaut, Yaman.

Dalam berbagai kesempatan, Gus Aziz menceritakan perjalanan pendidikannya yang cukup panjang. Ia mengaku belajar di pesantren selama sekitar empat setengah tahun sejak 2004 hingga 2008.

Setelah itu, ia melanjutkan kuliah di kota Tarim, Yaman, yang dikenal sebagai pusat pendidikan Islam klasik di kawasan Hadramaut.

“Guru-guru saya ada yang habib, ada juga yang bukan habib. Dosen saya juga begitu,” kata Gus Aziz dalam salah satu ceramahnya yang beredar di media sosial.

Menurutnya, pengalaman belajar di Tarim memberikan pelajaran penting tentang cara berpikir kritis dalam menerima sebuah informasi.

Diajarkan Tidak Langsung Percaya

Gus Aziz mengatakan, para guru di Tarim mengajarkan para mahasiswa untuk tidak langsung mempercayai sebuah informasi sebelum diuji dengan ilmu.

Ia menyebutkan berbagai disiplin ilmu yang dipelajarinya selama menempuh pendidikan, mulai dari mantiq, ushul fikih, qawaid fikih, ilmu tauhid, fikih mazhab, hingga ulumul Qur’an dan ulumul hadis.

“Fungsi dari ilmu-ilmu itu adalah untuk menguji apakah sebuah informasi itu benar atau tidak,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa metode ilmiah seperti itu sebenarnya sudah lama dipraktikkan oleh para ulama dalam menilai hadis Nabi.

Sebagai contoh, kitab hadis besar seperti Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim diakui sebagai kitab hadis paling sahih setelah Al-Qur’an setelah melalui proses pengujian yang panjang oleh para ulama.

“Sanadnya dicek, perawinya dicek, matannya dicek. Jadi semuanya diuji,” jelasnya.

Sikap terhadap Klaim Nasab

Dalam ceramahnya, Gus Aziz juga menyinggung pentingnya sikap ilmiah dalam menyikapi berbagai klaim, termasuk yang berkaitan dengan nasab.

Ia mengatakan bahwa setiap klaim harus bisa dibuktikan secara ilmiah dan historis.

Menurutnya, sikap tersebut justru lahir dari kecintaan kepada Rasulullah.

“Saya ini belajar di pesantren habib, kuliah juga di kota habib. Justru karena menghargai ilmu yang diajarkan guru-guru saya, maka saya mengikuti jalan ilmiah itu,” katanya.

Ia menyebut dirinya berada di barisan ulama Banten Imaduddin Utsman al-Bantani, yang dikenal aktif melakukan penelitian tentang nasab dan sejarah.

Selain itu, ia juga menyebut keterlibatannya dalam organisasi Perjuangan Walisongo Indonesia Laskar Sabilillah atau PWILS.

Islam Bukan Soal Pakaian

Dalam ceramahnya, Gus Aziz juga menyoroti fenomena sebagian orang yang menurutnya terlalu menilai keislaman dari simbol-simbol lahiriah seperti pakaian.

Menurutnya, Islam tidak ditentukan oleh warna jubah, peci, atau sorban.

“Islam itu nilai dan akhlak. Bukan sekadar pakaian,” katanya.

Ia menegaskan bahwa Rasulullah lebih menekankan nilai kejujuran, amanah, dan akhlak dalam kehidupan sehari-hari.

Menekankan Kejujuran

Di akhir ceramahnya, Gus Aziz mengingatkan pentingnya sifat jujur atau siddiq, yang merupakan salah satu sifat utama para nabi.

Menurutnya, kejujuran adalah fondasi penting dalam kehidupan manusia, termasuk dalam urusan ilmu dan sejarah.

“Kalau kita jujur pada diri sendiri, maka kita tidak akan takut untuk menguji sebuah kebenaran,” ujarnya.

Ia pun menegaskan bahwa tujuan belajar sebenarnya sederhana: agar manusia mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah.

“Belajar itu tujuannya satu,” kata Gus Aziz, “supaya kita bisa memisahkan antara yang hak dan yang batil.” (KD)

Sumber: https://youtu.be/dBaNI_OfBRc