Mendukung Negara Kafir Membunuh Umat Islam: Layakkah Wahabi disebut Islam?

Posted by: Admin 06-Mar-2026 Tidak ada komentar

Fenomena orientasi keberagamaan kelompok Wahabi-Salafi yang lebih memprioritaskan permusuhan terhadap kelompok Syiah (sesama Muslim) dibandingkan menghadapi hegemoni imperialisme global (Amerika-Israel) layak dicermati. Dengan pendekatan tekstualis-literal, kelompok ini terjebak dalam tatharruf (sikap ekstrem) yang mengabaikan prinsip ukhuwah Islamiyah dan maslahah ammah, sehingga menciptakan anomali politik yang memperlemah posisi umat Islam di kancah internasional.

Dalam tradisi pemikiran Islam moderat (Wasathiyah), musuh bersama umat adalah ketidakadilan dan penjajahan (isti’mar). Namun, ideologi Wahabi membangun fondasi gerakannya di atas pemurnian akidah yang sangat sempit. Akibatnya, mereka menciptakan kategorisasi “musuh dari dalam” yang dianggap lebih berbahaya daripada “musuh dari luar”. Logika ini menjadi akar mengapa dalam konflik Iran-Israel, konten creator Wahabi justru memberikan dukungan masiv terahadap Amerika-Israel yang telah membunuh cucu Rasulullah yang juga pemimpin Iran Sayyid Ali Khamenei.

Sikap mendukung pihak luar (Amerika-Israel) daripada sesama Muslim (Syiah) lahir dari cara baca teks yang kaku. Mereka sering mengutip fatwa-fatwa klasik tentang Barra’ (berlepas diri) terhadap orang yang dalam terminologinya masuk dalam kategori ahli bid’ah (Syiah) secara membabi buta, tanpa melihat konteks Siyasah Syar’iyyah (politik Islam) yang lebih besar. Dalam konflik abadi antara Islam-Israel, ketika Iran atau kelompok perlawanan lainnya menghadapi Amerika-Israel, Wahabi lebih memilih mendukung hancurnya umat Islam Syiah meski di tangan pihak yang jelas-jelas menindas umat Islam di Palestina.

Sikap ini merupakan bentuk tatharruf (ekstremisme) nyata. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa “Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya”. Dengan mengafirkan Syiah secara kolektif dan memutus solidaritas saat mereka melawan penjajah, kelompok Wahabi telah melakukan malpraktik teologis. Mereka terjebak dalam “Takfiri Geopolitik”—di mana kebencian sektarian telah menutupi kewajiban membela sesama muslim dan keadilan.

Perjuangan umat Islam dunia dalam upaya memerdekakan Palestina diselandungi oleh Wahabi dengan memecah solidaritas umat Islam untuk Palestina. Narasi sektarian yang mereka embuskan melemahkan dukungan bulat umat Islam terhadap perjuangan Palestina, hanya karena faksi-faksi pejuang tertentu mendapat dukungan dari Iran.

Secara tidak langsung, sikap tekstualis ini menjadi “karpet merah” bagi kepentingan Amerika-Israel untuk memecah belah kekuatan umat Islam di Timur Tengah melalui narasi “Sunni-Syi’ah”. Perlindungan terhadap nyawa dan kedaulatan umat Islam (terlepas dari madzhabnya) seharusnya menjadi prioritas di atas perdebatan teologis yang belum usai.

ulama Wahabi-Salafi sangat bergantung pada otoritas politik di Arab Saudi, fatwa keagamaan luar negeri mereka seringkali selaras dengan kepentingan negara. Ketika negara mereka terlibat rivalitas geopolitik dengan Iran, para ulamanya akan mengeluarkan fatwa yang mendukung posisi tersebut, bahkan jika harus terlihat beraliansi secara tidak langsung dengan Amerika atau Israel. Sikap seperti ini adalah penyimpangan ilmiyah yang besar. Tidak mendukung sesama Muslim (meski berbeda madzhab) saat mereka menghadapi agresi dari pihak yang jelas-jelas menjajah (Israel), adalah pengkhianatan terhadap ukhuwah Islamiyah. Mereka terlalu fokus pada teks-teks kebencian sektarian sehingga buta terhadap realitas kemanusiaan dan ukhuwah Islamiyah.

Wahabi sebagai gerakan fundamentalis-tekstualis telah gagal membedakan antara perbedaan pendapat (khilafiyah) dengan pengkhianatan terhadap nilai kemanusiaan dan persaudaraan Islam. Dukungan mereka terhadap agresi Amerika-Israel atas dasar kebencian kepada Syiah bukan hanya kesalahan pengambilan sikap politik, melainkan penyimpangan moral yang serius dalam sejarah pemikiran Islam kontemporer. Sudah saatnya umat Islam kembali pada jalur Wasathiyah yang mendahulukan persatuan melawan kezaliman di atas kebencian sektarian.

Di tengah arus narasi takfiri yang sering digaungkan kelompok tekstualis-wahabi, sangat penting untuk mengulang kembali kesalahan metodologis (manhaji) dari kaum Wahabi dalam memahami agama. Apakah sebenarnya mereka memahami agama Islam dengan benar atau memahami agama menurut selera dan kepentingan. Ketika mengkatagorikan Syi’ah sebagai “bukan Islam” secara kolektif, apa yang menjadi mustanad dan hujjah mereka sehingga berbeda dengan umat Islam secara keseluruhan. Lalu penisbahan mereka terhadap “Ahlussunah Waljamaah” apakah bisa ditolerir atau sebenarnya mereka telah keluar sebagai bagian Ahlussunah Waljama’ah. Mereka bukan “Sunny” bukan pula “Syi’I”. mereka adalah kelompok yang bukan-bukan.

Untuk menyatakan seseorang atau suatu kelompok keluar dari Islam, apakah standar Wahabi sama dengan standar yang difahami dari Al-Qur’an dan Hadits?

Pertama dalil dari Al-Qur’an, surat Al-Nisa ayat 94, berikut ini:

وَلَا تَقُولُوا لِمَنْ أَلْقَىٰ إِلَيْكُمُ السَّلَامَ لَسْتَ مُؤْمِنًا

“Dan janganlah kamu berkata terhadap orang yang mengaku Islam, engkau bukan orang beriman”

Ajaran Al-Qur’an sudah jelas bahwa kita tidak boleh mengatakan “bukan Islam” terhadap orang yang mengaku Islam. Mengenai apakah perkataannya itu benar atau dusta maka itu hanya Allah yang mengetahuinya. Ayat ini turun terkait dengan Usamah yang membunuh seseorang yang telah berkata “La Ilaha Illallah Muhammadurrasulullah”, lalu Usamah tidak mempercayainya kemudian membunuhnya. Rasulullah bersabda “Apakah kamu membunuh padahal ia mengatakan ‘Tiada Tuhan selain Allah’”? Usamah menjawab “Ia hanya ingin berlindung”, lalu Rasulullah berkata “Apakah engkau membelah hatinya lalu engkau melihatnya?”. Riwayat ini di antaranya bisa dibaca di kitab Tafsir Al-Thabari.

Dari Riwayat ini, kita diperintahkan untuk tidak menganggap kafir terhadap orang yang telah mengaku Islam. Dan Syi’ah mengaku Islam. Tidak ada di antara rukun Islam –yang menjadi sarat keislaman seseorang—yang dilanggar oleh Syi’ah. kelompok Wahabi yang hobi takfir ini seolah-olah punya teknologi scanner canggih yang bisa menembus jantung orang Syiah. Meski orang Syiah teriak “La ilaha illallah”, para “polisi iman” ini bakal menyahut: “Ah, itu cuma takiyah (bohong)!” Hebat sekali, ya? Nabi saja melarang kita menghakimi apa yang di lisan, tapi kelompok ini merasa punya hak prerogatif Tuhan untuk menentukan siapa yang jujur dan siapa yang dusta.

Ayat yang kedua yang harus diperhatikan Wahabi adalah Surat Al-Taubah ayat 11.

فَإِن تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ

“Jika mereka bertaubat dan mendirikan sholat dan menunaikan zakat maka mereka adalah saudaramu seagama”

Perhatikan kata “fa ikhwanukum fiddin” (maka mereka adalah saudaramu dalam agama) jika mereka bertaubat, mereka sholat dan mereka berzakat. Sedangkan kaum Syi’ah mereka solat, mereka berzakat. Lalu sarat Islam mana yang mereka langar menurut Al-Qur’an sehingga mereka bisa dikatakan bukan Islam? Wahabi gak bakal bisa jawab. Bagi kaum Wahabi, ayat ini mungkin dianggap “salah cetak” atau kurang lengkap. Bagi mereka, meskipun Anda salat sampai jidat hitam, kalau Anda tidak membenci orang yang mereka benci, Anda tetap “bukan Islam”. Jadi, mana yang lebih tinggi: Firman Allah atau fatwa syekh mereka? Kenapa Allah bilang Syi’ah adalah saudaramu, sementara Wahabi bilang mereka musuhmu. Kita mau ikut siapa, firman Allah atau Wahabi?

Lalu standar Islam dalam hadis-hadis Nabi, apakah Syi’ah melanggarnya? Perhatikan hadis-hadis di bawah ini:

أُمِرْتُ أن أقاتل الناس حتى يشهدوا أن لا إله إلا الله، وأن محمداً رسول الله، ويقيموا الصلاة، ويؤتوا الزكاة، فإذا فعلوا ذلك عصموا مني دماءهم وأموالهم إلا بحق الإسلام، وحسابهم على الله» (متفق عليه)

“Aku telah diperintahkan untuk memerangi orang-orang sampai mereka bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasul Allah, dan mereka mendirikan salat dan membayar zakat. Jika mereka melakukan itu, darah dan harta mereka terlindungi dariku kecuali oleh hak Islam, dan perhitungan mereka ada di sisi Allah.” (Diriwayatkan oleh Bukhari-Muslim)

Dalam hadits itu Nabi menyatakan bahwa ia diperintahkan untuk memerangi manusia sampai menjadi Islam yaitu bersyahadat, mengerjakan sholat, menunaikan zakat, jika telah melakukan semua maka darah dan harta mereka harus dijaga.

Lalu perhatikan pula hadits yang sangat popular di bawah ini:

الإسلام أن تشهد أن لا إله إلا الله وأن محمداً رسول الله، وتقيم الصلاة، وتؤتي الزكاة، وتصوم رمضان، وتحج البيت إن استطعت إليه سبيلاً» (رواه مسلم)

“Islam adalah bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasul Allah, melaksanakan salat, membayar zakat, berpuasa di bulan Ramadhan, dan melaksanakan ibadah haji ke Baitullah jika mampu.” (Diriwayatkan oleh Muslim)

Dan kaum Syi’ah melakukan semuanya. Lalu apa alasan Wahabi menyatakan Syi’ah bukan Islam? Di mata kaum Wahabi, rukun Islam seolah-olah bertambah menjadi: “Harus benci Syiah kalau mau dianggap Muslim.” Jika rukun yang dibuat Nabi saja sudah mereka “modifikasi” dengan syarat-syarat tambahan yang ribet, sebenarnya siapa yang sedang melakukan bid’ah di sini?

Menyatakan Syiah bukan Islam berdasarkan perbedaan penafsiran sejarah atau masalah politik masa lalu adalah sebuah kekeliruan metodologis yang fatal. Ketika kelompok Wahabi menggunakan standar di luar lima rukun Islam untuk mengeluarkan seseorang dari agama, mereka sebenarnya sedang membuat standar baru yang tidak didukung oleh teks eksplisit Al-Qur’an dan Hadits.

Tindakan takfir ini tidak hanya mencederai keadilan hukum Islam, tetapi juga merusak tatanan persatuan umat (ukhuwah Islamiyah). Mengembalikan definisi Islam kepada Al-Qur’an dan Sunnah adalah satu-satunya jalan untuk mengakhiri perpecahan yang destruktif ini.

Para ulama melihat bahwa Wahabi bukan sekadar madzhab fikih, melainkan gerakan pemutus ukhuwah. Mereka menggunakan agama sebagai alat untuk menyerang sesama Muslim, yang ironisnya justru membuat mereka terlihat “lunak” atau bahkan mendukung kepentingan kafir harbi (agresor) demi menghancurkan kelompok Muslim lain (seperti Syiah) yang mereka benci secara berlebihan (tatharruf).

Menyatakan Syiah bukan Islam bukan hanya kesalahan akademis, tapi sebuah kesombongan spiritual yang merusak. Al-Qur’an sudah memberi pagar yang luas, tapi Wahabi malah sibuk memasang kawat berduri di mana-mana. Kalau Syahadat, Salat, dan Zakat sudah tidak cukup lagi untuk membuat kita bersaudara, lalu kita mau pakai standar apa?

Oleh: Imaduddin Utsman Al-Bantani